Saturday, April 4, 2020

Nadia & Atmospheer (1978) - Gombloh & Lemon Tree's anno '69 (lirik)

Nadia & Atmospheer
(1978)


Nadia & Atmospheer adalah album pertama Gombloh & Lemon Tree's anno '69. Album ini dirilis pada tahun 1978 dalam naungan label Golden Hand / Indra Record. Indra, atau akrab dipanggil Koh In adalah pemilik label yang memantau musikalitas Gombloh dan membantunya meraih langkah awal menuju popularitas. Meskipun album ini penjualannya kurang memuaskan, namun dalam salah satu lagunya berjudul 'Lepen', terdapat kalimat legendaris yang akan senantiasa dikenang orang : kalau cinta melekat, tahi kucing rasa coklat.

Dalam album ini terdapat banyak musisi yang ikut serta. Sebut saja Gatot Yuwono, Wisnu Padma, Tuche, Lorena Limahelu, Reny Limahelu, Ratih Sumarsono dll.

---------

SIDE A

Lepen
(Vocal by : Gombloh)

Bagiku sinar mentari
Tak seindah matamu
Untukku elusan angin
Tak semulus lenganmu

Tak peduli omongan temanku
Tak peduli resiko untukku
Aku menaksir kamu
Kau jadi gadisku

Malam minggu pertama aku piket
Dengan sisa uang di saku 
Hampir lengket
Dengan tiga batang Dji Sam Soe
Kusimpan di saku blue jeansku
Kickers loakkan
Menambah angker tampangku

Kupilih duduk di sudut agak remang
Kutunggu keluar sang putri
Aryo Penangsang
Pikiran melayang yang bukan-bukan
Andaikan kau dan aku berpacaran
Kalau cinta melekat
Tai kucing rasa coklat

Tapi apa lacur yang keluar adalah bapaknya
Dengan muka ditekuk persis kayak onta
Dengan garang ia berkata
Gadisku tak ada di rumah
Sambil ngedumel kuberkata dalam hati... Bangsat!

---------

Merah & Putih Bersilang di Mukaku
(Vocal by : Gombloh)

Angin laut tampar lembut
Terasa dingin di kudukku
Burung camar samar halus
Fatamorgana di depanku

Senyum perawan tipis berawan
Tempel di pelupuk mata kananku
Hyang Shanti!
Hyang Shanti!
Hyang Shanti!

Bara api krasak kering
Lapisan panas di keningku
Prostitusi, caci maki
Budaya lewat di kotaku
Bersimpang siur dada berdebur
Tempel di pelupuk mata kiriku
Hyang Shanti!
Hyang Shanti!
Hyang Shanti!

Hey, hey, bayi telanjang
Bersimbah tawa, bersimbah peluh
Hey, hey, pedang telanjang
Bersimbah darah, bersimbah keluh

Kejar-mengejar di seling kerling
Mega berarak tuding-menuding
Peluk-berpeluk saling menggiling
Guru-mengguru dunia berpaling

Damai desa, ramai kota
Saling pagut menyeluruh
Kuncup tebu, asam arang
Saling berjanji memadu
Lestari alam ciptaan satu
Tempel di kedua mata batinku
Hyang Shanti!
Hyang Shanti!
Hyang Shanti!

---------

Nadia & Atmospheer
(Vocal by : Lorena, Reny, Ratih, Gombloh)

Di tengah padang berasap 
terhempas bintang berekor
Hempasan angin barat
Di tengah pudaran bintang
Terselip kerlip meteor
Atmospheer memberat
Nadia terlelap
Di kumparan gelap
Lingkaran hamparan
Pengantar berselubung
Endapkan panas
Bekukan hangat

Di tengah ribuan rumus 
Terselip sebuah etik
Lampiran bercanda
Di tengah timbunan kamus
Terselip sebuah bisik
Irama senada

Nadia berontak
Frekwensi menghentak
Mematah arangkan selubung yang merajut
Pancarkan sinar
Timbulkan getar

Nadia berkehendak dengan dirinya
Hempaskan rantai
Carangkan misai

Nadia berteriak pada dirinya
Putuskan biru
Putihkan malu

Nadia menggelak gelagak galak
Tanggalkan pakaian perekat yang mengikat
Menantang ke depan
Senyum mengembang

Di tengah gemuruh peradaban,
Nadia berkata:
Kebebasan naluriah....

---------

Kereta itu Berangkat Pukul 4.30
(Vocal by : Lorena, Reny, Gombloh)

Angin sarat terhembus
Dingin terasa
Pori baju tertembus
Terasa basah
Unggas liar menebar
Bubar tersebar
Na... Na... Na... Na...

Kiri kanan pandangan
Indah terhampar
Sawah gunung belukar
Silih bergambar
Kerbau melenguh lirih
Bergumam iri
Na... Na... Na... Na...

Menembus keremangan pagi
Berbasah tetes embun
Gelitik keriangan hati
Pelanku bersenandung
Kukuh kuat keretaku
Melayang dan gemuruh
Hembuskan angin keras
Menuju kotaku

---------

Ironi
(Vocal by : Lorena Limahelu)

Di tengah belaian angin
Kududuk di tengah tonjolan batu pedesaan
Kupandang lekat bocah bermain
Indah dan subur negriku

Di tengah suara seruling
Yang terpadu dengan gesekan bambu
Kuresapi lagu dengan kupejamkan mata
Terlepas kata
Kucinta padamu

Negeri subur dan makmur
Berbusanakan pepohonan rimbun
Negeri subur dan makmur
Berhiaskan gunung dan sawah
Karet dan jagung

Di tengah kicauan burung
Terlintas di benakku sekilas kepedihan
Kulihat perbedaan miskin dan kaya
Semoga itu akan berakhir
Di masa yang akan datang

---------

Kemarau Panjang
(Vocal by : Ais)

Kami lihat sejuta bunga
Tanpa dapat kami cium baunya
Kami lihat rumput bergoyang
Walau tak kami dengar gesekan

Apakah kami mimpi
Melihat tanpa merasa
Apakah kami tuli
Tak tahu nikmatnya suara

Oh Tuhan apakah ini
Yang tertulis di garismu
Dalam guratan tubuh kami
Tanpa bekas

Kami lihat lompatan burung
Walau tak kami dengar kicaunya
Tlah kami minum secangkir anggur
Walau tak kami rasa manisnya

Mentari
Apakah ini yang menjadi tugasmu
Ciptakan kemarau panjang di tanah kami

Mentari
Apakah ini yang menjadi kehendaknya
Sebagai hukuman kami ingkar padanya
Murtad

Kami berdoa
Semoga kemarau panjang ini cepat berlalu
Adakah harus kami perbuat untuk ini
Oh
Kami tanyakan pada angin yang lewat
Kami rangkapkan sambil mencari jawab
Yang benar dalam pelukannya
Yang putih dalam lindungannya

---------

SIDE B


Gaung Mojokerto-Surabaya
(Vocal by : Gombloh)

Alun-alun Mojokerto kau dilepas
Tepat ketika mentari mulai condong
Dengan nyanyian yang membakar
Kau melangkah 
dengan mata yang berbinar
Dalam satu barisan yang panjang kekar
Dengan irama tu..wa..ga..pat

Kilometer 55 tapak demi tapak
Peluh mengucur 
semangat yang menghentak
Bukan materi yang kau harap
Di tengah gemuruh kau melangkah
Derum genderang putra bangsa
Gaung Mojokerto Surabaya

Bumi rasa bergetar
Di seling yel-yel menghantar
Nadiku serasa bergeletar
Merdu pekik menggelegar
Senyumlah Surabaya
Pandanglah Surabaya

---------

Tetralogi Fallot
(Vocal by : Gombloh & Lorena Limahelu)

Yang kudambakan seri sinar di parasmu
Yang selintas lepas lesung pipit di pipimu
Rindang daunan rimbunan tembang
Bak putri-putri pergi ke sendang
Balur sinar kini hilang muksa
Muncul kabut biru 
Di tengah mimpiku.... Lusuh
Suratan takdir yang kuasa

Yang kurindukan utuh wajah mempesona
Yang selintas lepas senyum malu di rupa
Sejuknya tirta alunan doa
Lalu lewat tanpa bertanya
Balur sinar kini hilang muksa
Berbaur darah biru dikandung darahmu.... Rusuh
Suratan takdir yang kuasa

Sang tetralogi fallot
Mengendap karat membalut
Ruba warna darah nadimu
Hitam-hitam kelabu
Tak lagi merah rona parasmu
Semu biru di sekeliling
Tak lagi genit tingkah lakumu
Bagai rantai perak berkeliling...
Sayangku

Sembilan bulan kukandung
Kau di rahimku
Sewindu telah berlalu
Kau di kasih sayangku
Suratan takdir tersirat
Hidup tinggal bilangan jari
Rawatan medis membulat
Tuhan akan memanggilmu... kembali

Yang kering sudah mata air di mataku
Yang habis sudah resah kesah di hatiku
Kini kupasrah dengan tengadah
Tanpa berat hati melepasmu
Duduk di tempat disisinya

---------

Sillhuete Kuda Jantan
(Vocal by : Reny Limahelu)

Terjangan ombak, hempasan angin
Tak kuhiraukan
Sindiran rasa, cemoohan kata
Tak kurasakan
Aku adalah sillhuete kuda jantan
Tak lekang hempasan jaman
Dan satu jalur pandang mataku
Idealisme kehidupan
Kemurnian yang kukuh tanpa ragu
Yang menyengat keasrian karya

Halusnya sutra kilau manikam
Tak menggoyahkan
Lilitan ular, sengaran petir
Tak meluluhkan
Aku adalah sillhuete kuda jantan
Berlari menerjang kesemuan
Dan satu jalur mata hatiku
Memandang keharuan
Mendalam kejenuhan
Yang berselimut kabut kemunafikan

Cakaran elang timbulkan luka
Goresan warna timbulkan bisa
Luka dan bisa saling menghias
Pengganti kembang, pengganti merjan dan emas
Tapi aku tetap menerjang ke depan
Berlari, bernyanyi
Dalam nyanyian yang panas
Dalam darahku, dalam nadiku
Hip hip hip hip houre (4x)

Aku adalah sillhuete kuda jantan
Berselaput merahnya darah
Dan satu kalimat sederhana
Kutempatkan di hatiku
Penerang di jalanku
Tanpa ragu memandang satu
Hip hip hip hip houre (4x)

---------

Hijau Mencekam
(Vocal by : Ais)

Tahun itu satu juta tahun sesudah 
Masehi
Kota-kota tumbuh bagai rumput bersemi
Pencakar langit berlomba dengan statistik kelahiran
Taman-taman tersingkir
Oleh kepadatan insan

Tak ada tempat
Ruang bagi tumbuhan
Digantikan oleh gedung-gedung menebar
Orang tak lagi melihat matahari terbenam
Orang tak lagi melihat matahari terbit
Hanya melihat surya tengah hari
Terhalang oleh gedung menjulang

Orang rindu pada pantai
Orang akan rindu pada gambar
Karena hanya gambar
Orang rindu pada kambing
Orang akan rindu pada anjing
Menjadi barang purbakala

Semua sumber air ditutup
Orang berjalan muka bertopeng
Takut hama dan polusi

Insan-insan akan tinggal berdesakan
Plankton-plankton habis dimakan jaman
Kebutuhan bumi d
Dipenuhi dengan kalengan
Entah berupa benda padat
Entah berupa cairan

Jaman itu manusia makin serakah
Siapa kuat dialah yang jadi pemenang
Dengan bantuan ilmu pengetahuan
Tanpa mengingat akan alam

Ya Tuhan ampuni mereka
Semoga tak terjadi.... Di negriku.

---------

Bencana '76
(Vocal by : Lorena & Gombloh)

Di ufuk timur matahari pagi
Sinar terang
Hangat di badanmu, hangat di hati
Hati riang
Kala ku tak tahu nun disana
Terjadi gempa, oh, di Irian Jaya
Terjadi gempa di Pulau Dewata

Ulurkan tangan, ulurkan cinta
Meringankan
Sumbangkan baktimu, sisihkan sukamu
Tunas bangsa, tunda makan malammu
Iris gunung nasimu
Sisihkan buat mereka
Sisihkan buat mereka

Menggigil para pengungsi
Meninggalkan gubugnya
Ratusan para pengungsi
Menjerit dahaga
Panjatkan pada Illahi
Semoga tak mendua.. oh..

Di ufuk timur tiada matahari
Tapi di hatimu
Tunaikan tugasmu dengan rasa cinta
Saudaraku
Saudaraku
Saudaraku

---------

Senandung Pengemis Tua Seharga Lima Rupiah 
(Vocal by : Gombloh & Lorena)

Terbungkuk-bungkuk bagaikan onta
Tertatih-tatih bagai kura kura
Pengemis tua menyusuri lorong
Mencari sesuap nasi
Berjalan didekatnya si anjing kudis
Hanya itu sahabat yang setia

Terseok-seok jalan duanya
mencari belas dari sesama
Tapi jarang orang memberi
Walau lima rupiah
Tak jarang caci diterima olehnya
Sebagai ganti lima rupiah

Lima rupiah cukup beli ubi
Kalau dapat lebih 
mungkin beli kopi
Lima rupiah cukup beli pisang
Kalau dapat lebih 
mungkin untuk makan
Penyambung hidup sehari

Tuan yang duit melimpah
Walau uang dari mana
Berilah ia lima rupiah
Tuhan akan membalasnya
Tuhan akan membalasnya
Dan pengemis itu akan bersenandung
Uuuuuuuhhh....

---------

Dimensi Antar Ruang
(Vocal by : Gombloh)

Kuberjalan dikala remang senja
Kelilingku pohon 
bagai berwarna kelabu
Aku heran senja mendadak bisu
Tak ada suara jengkrik bernyanyi
Tak ada kelelawar berbunyi
Terasa hanya angin tanda kehidupan
Lamat kudengar suara-suara aneh
Bagai suara musik 
campur dengung lebah
Kucari diantara cendawan
Kucari diantara bebatuan
Kian lama kian keras
Kiranya datang dari atasku

Benda bulat bersinar melayang turun
Besar bentuknya berwarna perak
Pantulan sinarnya silaukan mataku
Kucubit lenganku 
karena kutakut bermimpi
Tak lagi sempat kututup mulutku
Turun makhluk manusia kristal
Memandangku sekejap menyelidik
Balik kebenda perak dan berangkat

Tiba kuingat berita dikoran
Cerita tentang makhluk angkasa
Kupikir dulu hanya bualan saja
Aku hanya sedikit menyesal
Datang perginya terlalu cepat
Sehingga aku tak bisa bertanya
Apakah negara disana berbentuk republik?
Apakah disana ada komersialisasi?
Apakah disana ada demokrasi?
Apakah disana ada prostitusi?
Yang terang negaraku adalah negara republik
Dan aku bangga padanya
Dan aku bangga
Aku cinta lndonesia

----------

Foto diambil dari : kasetlalu.com

Dicopy dari deskripsi lirik pada album Nadia & Atmospheer milik kolektor Relief Arief.

Friday, April 3, 2020

Mawar Desa (1978) - Gombloh & Lemon Tree's anno '69 : Full Lirik Lagu Gombloh



*Album Mawar Desa adalah sebuah album yang dirilis oleh Gombloh dan Lemon Tree's anno '69 pada tahun 1978, tidak berapa lama setelah dirilisnya album perdana, Nadia & Atmospheer. Selain Gombloh, sejumlah musisi turut berpartisipasi dalam penggarapan album ini. Sebut saja Gatot Yuwono pada gitar, Wisnu Padma pada keyboard, juga Mus Mulyadi, Soelih Estoepangestie, Ratih Sumarsono dan Evy Soenarko.

-----

SIDE A



Mawar Desa
(Vocal by : Ratih Sumarsono)

Kau sebarkan wangi daun-daun lumut
Kau tebarkan sari bunga-bunga kaktus
Di lepas bukit, di tepi parit
Di cakrawala engkau mengaca
Berharapkan rasa yang memuja
Kau tengadah

Kau siulkan nada rumput-rumput basah
Kau rangkaikan kata unggas-unggas muda
Tali temali berpintal jari
Desah mendesah angin meraba
Berharapkan rasa yang memuja
Ku tengadah

Tatapan matamu mempesona sukma
Berseratkan serat pujangga
Tak bertuliskan kata-kata indah
Kaulah kuntum mawar desa

Kau sebarkan wangi daun-daun lumut
Kau tebarkan sari bunga-bunga kaktus
Di lepas bukit
Di tepi parit
Di cakrawala engkau mengaca
Berharapkan rasa yang memuja 
Ku tengadah

Tatapan matamu mempesona sukma
Berseratkan serat pujangga
Tak bertuliskan kata-kata indah
Kaulah kuntum mawar desa

---------

Padang Impian
(Vocal by : Gombloh)

Hey bergerak-gerak 
Berguncang-guncang
Pedati

Hey berdentang-dentang
Memecah senja 
cemeti

Beriringan kereta menyusuri sabana
Hey... berkeringat

Hey gelak dan tawa
Nyanyi dan canda
Mengalir

Hey bir-bir dan air
Gelas membasah di bibir
Meneguk kenikmatan
Usai menegang tugas
Hey penggembala

Kan ku angankan
Padang-padang luas
Kan ku rindukan
Kuda ganas
Di padang

Meneguk kenikmatan
Usai menegang tugas
Hey penggembala

Kan ku angankan
Padang-padang luas
Kan ku rindukan
Kuda-kuda ganas
Di padang

---------

Sang Pemangku
(Vocal by : Ratih Sumarsono & Gombloh)

Beriak air di padang yang subur
Teriak rasa yang teratur
Lembut ilalang saling pandang memandang
Menyanyikan sang pemangku
Menarikan tari syahdu

Kucoba bertanya pada kumbang merah,
Apakah hidupnya bahagia?
Jawabnya hanya tersenyum-senyum manja
Menyanyikan sang pemangku
Mengejakan kata satu

Tak mungkin satu katapun yang tepat
Melukiskan kehadiranmu
Tak mungkin satu insanpun yang dapat
Menyamai kebesaranmu
Mewarnai keindahanmu

Menyanyikan sang pemangku
Menarikan tari syahdu

Menyanyikan sang pemangku
Mengejakan kata satu

---------

Berjubel
(Vocal by : Gombloh)

Hei berkeluh kesah kereta pagiku
Hei berdesak-desak ratusan pelaku
Bersesak nafas di tengah yang pengab
Berteriak kalut di tengah yang panas
Berjubel!
Bercampur keranjang

Hei pedagang ayam berteriak marah
Hei si tukang catut melotot merah
Bertengkar ribut tengah-tengah peron
Berebut karcis di tengah penonton
Berjubel!
Bercampur keranjang

Begitu kehidupan yang keras 
di kota kelahiranku
Begitu kehidupan yang panas 
di negeri kekagumanku

Hei berkeluh kesah kereta pagiku
Hei bermandi basah keringat tubuhku
Bersesak nafas di tengah yang pengab
Berteriak kalut di tengah yang panas
Berjubel!
Bercampur keranjang

Begitu kehidupan yang keras 
di kota kelahiranku
Begitu kehidupan yang panas d
negeri kekagumanku

Hei berkeluh kesah kereta pagiku
Hei bermandi basah keringat tubuhku
Bersesak nafas di tengah yang pengab
Berteriak kalut di tengah yang panas
Berjubel!
Bercampur keranjang
Berjubel!
Bercampur keranjang
Berjubel!
Bercampur keranjang

---------

Sinar-sinar Lembut Kehidupan
(Vocal by : Ratih Sumarsono)

Di kehangatan matahari
Kadang-kadang ku bertanya
Dimanakah letaknya 
bila aku mencari kedamaian?

Di kerumunan burung-burung
Kadang-kadang kubertanya 
Dimanakah letaknya 
bila aku mencari ketentraman?

Merekapun berpaling 
sambil tersenyum
Tapi aku herankan 
tak satu terucap kata menjawabku
Sehingga akupun nanti 
Dapat mencari untuk bekalku
Bekal hidupku kemudian hari

Di desingan angin-angin 
kadang-kadang kubertanya 
Dimanakah letaknya 
Tanah-tanah yang dijanjikan?

Merekapun berpaling sambil tersenyum
Tapi aku herankan 
Tak satu terucap kata menjawabku
Sehingga akupun nanti 
dapat mencari untuk bekalku
Bekal hidupku kemudian hari

Merekapun berpaling dan menengadah
Tapi yang kuherankan 
tak satu terucap kata menghiburku
Sehingga akupun nanti 
Dapat sedikit mimpi tentang engkau
Dimana aku dapat mendambakan? 
Susah hidupku kemudian hari..

---------

SIDE B


Sasana Shanti Antropologi
(Vocal by : Ratih, Soelih, Gombloh)

Rumah itu terletak di tengah kota
bercat putih menghadap ke utara
dengan membayar beberapa mata uang
orang dapat menjenguk ke dalamnya

Melihat fosil binatang dan manusia
yang hidup beberapa jaman sebelumnya...

Rumah itu terletak di tengah kota
Disitu berkumpul benda purbakala
Kucing yang hidup di jaman kita
Mungkin juga kecoak di dalamnya

Begitu tertulis di dalam sejarah
Fakta yang menjadi kenyataan.. haa.. haa.. haaa..

Mungkin juga fosil dari rendra
Mungkin juga fosil dari iwan tirta
Mungkin juga fosil peminta-minta
Diketemukan dekat galian pipa
Mungkin juga fosil dari kita?

Rumah itu terletak di tengah kota
Dengan nama mentereng di depannya
Tertulis sebagai museum negara
Orang akan menghargai sepantasnya

Bercat putih menghadap ke utara
Tertulis tahun itu satu juta sesudah kita

---------

3600 Detik
(Vocal by : Mus Mulyadi)

Malam tunjuk pukul dua

Emper toko kaki lima
Duduk bersimpuh wanita tua
Bersama orok perempuannya

Berbaju setengah nudis
Itupun satu-satunya
Sandal tua sudah tipis
Dipakai cukup setengahnya

Angin malam meniup dengan garang
Dingin di badan menusuk tulang
Menggigil badan perempuan tua
Tapi semua itu tak dirasa

Lolong anjing di jauhan
Menyelinap dingin malam
Orang lalang tak hiraukan
Ia bagai orang terbuang

Kalut pikiran dirasakan
Lihat anaknya kedinginan
Ingin hatinya membahagiakan
Tapi bagai jangkau rembulan

Tuhan tunjukkan jalan padanya
Hambamu yang dalam sengsara
Berikan terang padanya
Supaya ia hidup selayaknya

Malam tunjuk pukul tiga

---------

Arindra
(Vocal by : Evy Soenarko)

Kulilitkan selendang 
merah jambu di lehermu
Kucoba menghitung bintang
Sambil tengadah menatapmu
Kucium lembut keningmu
Tanpa ada rasa warna biru
Sang bulan tersenyum
Angin membuai lembut
Dan berbisik
bisik kemanjaan

Kukembangkan payung 
kuning secerah melati
Sambil tertawa kucium pipimu
Satu-satu kekasih
Kau genggam erat-erat tanganku 
sambil kau coba bernyanyi lembut
Semburat warna lembayung 
Bermata tulus dan bernyanyi
Nyanyi kemesraan

Kuingin hidup seribu tahun lagi
Kuingin hidup terus bernyanyi
Mencium warna-warna pelangi
Dengan mata yang berbinar
Dengan dada yang berdebar
Arindra...

Kuingin hidup seribu tahun lagi
Kuingin hidup terus bernyanyi
Mencium warna-warna pelangi
Dengan mata yang berbinar
Dengan dada yang berdebar
Arindra...

---------

Cita-cita
(Vocal by : Gombloh)

Berlompatan lincah di rumputan
Perputaran lingkar alang-alang
Berlarian kencang di bukit hijau
Berkokohan tegak kuda-kuda

Berlintasan laju di lazuardi
Berhentakkan maju kuda putih
Berangankan angan membumbung tinggi
Berdasarkan laju sang dewani

Berbusanakan tema baru
Berhiaskan rasa sungguh
Berkalungkan sutera wangi
Berharapkan engkau 
kan mencapai...

Berlompatan lincah di rumputan
Berputaran lingkar alang-alang
Berlarian kencang di bukit hijau
Berkokohan tegak kuda-kuda

Berbusana tema baru
Berhiaskan rasa sungguh
Berdengungkan sutera wangi
Berharapkan engkau 
kan mencapai...

Berlintasan laju di lazuardi
Berhentakkan maju kuda putih
Berangankan angan membumbung tinggi
Berdasarkan laju sang dewani

---------

Musafir
(Vocal by : Mus Mulyadi)

Aku ini adalah musafir
Yang dibuainya terlelap
Di negeri yang aku tuju 
Tiada duka dan sesal

Disanalah kan ku jumpai
Kaulah yang dulu pergi
Ku seberangi sungai yazdan ini
Ke negeri yang berseri

Aku ini adalah musafir
Yang dibuainya terlelap
Di negeri yang aku tuju
Tiada duka dan sesal

Disanalah kan ku jumpai
Kaulah yang dulu pergi
Ku seberangi.....
Ke negeri yang berseri
Ke negeri yang berseri

---------

Hujan Tengah Hari
(Vocal by : Evy Soenarko)

Titik hujan sentuh jendela
Dingin merambat pelan pasti
Kuhela nafasku kurapatkan selimut
Kucoba cari jalur kehangatan
Celingkup yang kecil

Titik hujan mulai membesar
Daun menunduk makin bisu
Kulihat sang cakra tersenyum malu
Sembunyi wajah di mendung yang hitam
Celingkup yang kelam

Titik hujan tunjukkan kehebatan
Basahi bumi basahi batuan
Basahi semuanya
Dalam dingin air
Walau hanya untuk sekejap
Karena itu pasti
Karena itu nanti akan berlalu

Titik hujan turun satu-satu
Burung-burung mulai berlabuh
Kulihat nuansa mulai senyum
Bersinar wajah di lingkup yang terang
Celingkup yang tenang
Celingkup yang riang
Celingkup yang gamblang


--------------------

FYI : 
Karena album Mawar Desa tidak disertai lirik dalam cover albumnya, maka penjabaran lirik diatas hanya berdasarkan pendengaran semata. Kami sangat mengharapkan masukan, atau koreksi dari saudara-saudari sekalian apabila ada bagian-bagian yang keliru. Terimakasih.

Foto album berasal dari : kasetlalu.com

Saturday, September 7, 2019

"Saya tak lagi sendiri" : Catatan Pertemuan Awal Komunitas Fans Gombloh Surabaya




"Para cantrik nggentur laku / poro wiku paring ilmu/ kanthi tekad wojo.."

Alunan lagu berjudul 'Sekaring Jagad' dari album Sekar Mayang milik penyanyi legendaris Gombloh tersebut perlahan sayup terdengar membisik di sepertiga malam kota Surabaya. Dalam sebuah ruang di Warkop Rakyat Kahuripan (WRK), tampak tiga orang dengan memakai kaos bergambar Gombloh, idolanya.

"Apakah teman-teman kita benar-benar datang?"

"Adakah penggemar Gombloh di Surabaya selain kita?"

Begitulah selang-seling obrolan ketiga fans Gombloh, antara penulis, Affandy Willy Yusuf dan Nurul Huda, yang juga pengelola WRK.

Malam tunjuk pukul delapan. Nurul Huda masuk ke ruang amplifyer dan kembali mengutak-atik listplay lagu-lagu Gombloh yang digemarinya. Ia kini memutar satu tembang yang dinyanyikan Tyas Drastitiana "Remy Anakku Sayang"

"Di timur kuning cakrawala / menyapa ramah padamu..."

Tak lama setelah lagu itu diputar, terlihat seorang pria dengan kaos putih tampak celingukan di depan warung. Kami melihat sosok itu dan spontan melambaikan tangan padanya,

"Mas Reeeemmmyy!!!!"

Orang itu menyahuti dan langsung menghampiri sekaligus menyalami kami satu per satu. Dialah Remy Wicaksono, putra tunggal sang maestro Gombloh yang datang jauh-jauh dari Sidoarjo. Kami langsung duduk di sebuah ruang panjang lesehan dengan meja-meja kecil. Ruang itu sedari tadi telah dipasang tulisan 'Reserved by MoGers'. Tentu saja MoGers adalah kami.

Suasana malam Surabaya semakin hangat. Perbincangan menjadi tungku dan semangat sebagai sebagai sesama penggemar Gombloh menjadi api yang memanaskan.

"Dari sekolah, kuliah sampai kerja, saya itu dianggap nyeleneh. Ketika banyak teman mengidolai dan menyanyikan lagu-lagu populer pada masanya, saat itu hanya saya seorang diri yang mengidolai Gombloh," ujar Affandy Willy Yusuf.

Nurul Huda pun demikian. Ia menceritakan pengalamannya, saat berulang kali ia menyetel lagu-lagu Gombloh di warungnya, tidak jarang banyak pertanyaan dari pengunjung, terutama kalangan anak muda tentang sosok penyanyinya. Tidak banyak yang tahu sosok Gombloh. Kerap kali Huda menjelaskannya dengan perlahan.

Remypun bercerita tentang secuil kenangannya bersama almarhum Bapaknya dulu. Ia juga berkisah tentang mimpinya, dimana ia selalu menanti-nanti terjadinya pertemuan antara para penggemar Gombloh yang sebenarnya sudah lama eksis di dunia maya.

Media sosial memang memiliki banyak sisi buruk, namun medsos seringkali mempersatukan antar kawan, antar saudara yang telah lama berpisah, maupun antar sesama penggemar ikon-ikon tertentu. Tidak ketinggalan pula MoGers. Sebagai sesama fans Gombloh yang tersebar di berbagai daerah. Kami menamakan diri sebagai MoGers (Memories of Gombloh & Lemon Trees). Kami dipersatukan via facebook dan berlanjut dengan group whatsapp. Berhubung di Surabaya cukup banyak ditemui fans Gombloh, maka beberapa inisiator mencoba mewacanakan adanya pertemuan untuk mewujudkan komunitas tersebut di dunia nyata. Malam itulah hari-H dilaksanakannya jadwal pertemuan awal MoGers Surabaya yang rencananya dihadiri beberapa orang.

Tidak lama, pria berkaos merah dengan gambar wajah Gombloh datang. Ia menyalami kami dan mengenalkan namanya. 

"Saya Wawan, yang akrab dipanggil Sret Kartolo," ujarnya dengan ramah.

Akhirnya datang lagi seorang penggemar Gombloh! Kami bersukacita, apalagi setelah mendengarnya berkisah bahwa selama ini ia merasa seorang diri dalam menggemari sosok Gombloh. Sekian lama ia dilanda kebingungan untuk mencari kawan yang bisa diajaknya berbincang tentang Gombloh. Berawal dari situlah akhirnya Wawan 'Sret Kartolo' begitu antusias saat mendengar rencana pertemuan ini via WhatsApp. Ia benar-benar datang di malam itu.

Beberapa menit kemudian setelah kehadiran Wawan, tampak seorang perempuan manis dan langsing, sedang berjalan bersama suaminya sembari menggandeng gadis kecil. Dialah Unnie Maharani, bersama suaminya, Atank Alfarisi, dan anaknya. Mereka berdua adalah sesama penggemar Gombloh sekaligus sedang berjuang untuk memindahkan patung Gombloh ke tempat yang layak.

"Patung Gombloh itu dibuat oleh almarhum suami saya yang pertama, bersama beberapa kawan. Sekarang patung itu sudah ada di tangan pemkot Surabaya dan ditempatkan di Museum Tugu Pahlawan; tapi keberadaan patung tersebut menimbulkan sengketa, karena Pak Didik, salah satu pembuatnya bersikeras untuk mengambil kembali patung berbahan perunggu tersebut demi keuntungan pribadinya, padahal hak cipta atas patung tersebut dimiliki oleh tiga orang, dan saya berjuang agar patung tersebut ditempatkan sebagaimana mestinya, bukan menjadi milik perseorangan saja, karena seniman yang lain, selain Pak Didik, sudah dengan ikhlas merelakan patung tersebut menjadi milik Surabaya. Selama ini saya berjuang seorang diri," ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

Di tengah pertemuan awal demi terbentuknya komunitas MoGers, satu agenda sudah tersedia: kami akan berjuang demi keberadaan patung yang memiliki nilai historis sebagai patung pertama Gombloh di kota Surabaya.

"Sugeng dalu, sederek-sederek!"

Seorang pria berambut panjang datang dan menyapa kami sambil menenteng tas hitam. Ia menyalami semuanya dan mengenalkan namanya.

"Saya Arif dari daerah Tandes. Saya fans Gombloh dan dalam pertemuan ini saya membawa koleksi kaset Gombloh saya"

Arif lalu mengeluarkan koleksi kaset-kasetnya hingga membuat semua mata terbelalak. Koleksi kaset Gombloh yang cukup langka, dari album awal keluaran Golden Hand/Indra Record, hingga album akhir keluaran Nirwana Record.

Selagi mengamati kaset-kaset Gombloh, suara whatsapp penulis selalu berdenting tiap setengah jam sekali. Penulis membacanya semenjak pukul lima sore lalu.

"Baru otewe dari Tuban"

 "Lamongan"

"Gresik"

"Masuk tol Surabaya"

"Saya sudah sampai di depan mall Grand City"

"Sepertinya sebentar lagi sampai. Pacar Keling, ya? Sesuai peta"

Itulah rangkaian percakapan tentang update posisi ,via whatsapp yang dikirim oleh Wowok Paramatatwa, fans Gombloh dari Tuban. Sebagai seorang fans Gombloh sekaligus juara pertama kontes nyanyi mirip Gombloh tahun 1988, dirinya begitu antusias mendengar kabar pertemuan para MoGers di Surabaya, sampai-sampai ia rela datang jauh-jauh dari Tuban.

Tepat pukul sembilan, Wowok Paramatatwa dan Agus, kawannya muncul di WRK. Ia menyalami kami satu-persatu dan tak lupa memeluk Remy, putra dari idolanya.

"Dulu Remy masih kecil dan digendong Ibunya saat saya mengikuti lomba nyanyi di radio Suzana. Saya single fighter di Tuban, saya sendirian dalam membumikan lagu-lagu Gombloh di kota saya, dan sebagai orang yang pernah tidur di makam Gombloh, dalam keadaan apapun saya akan datang bila ada pertemuan sesama penggemar Gombloh!," ungkapnya berapi-api. 

Om Wowok ini terhitung paling sepuh diantara kami, namun semangatnya bahkan mengalahkan semua orang yang datang, juga kedalaman penggaliannya terhadap sosok Gombloh tidak diragukan lagi, ialah yang paling senior. Beliau juga mengungkapkan kisah masa lalunya, bahwa setelah mendapat kabar meninggalnya Gombloh, ia datang dari Tuban hingga Surabaya dan mungkin karena saking sedihnya ditinggal sang idola, ketika itu ia sempat semalaman suntuk terdiam menghadap nisan Gombloh di kompleks pemakaman Tembok, Surabaya.

Setelah saling berbincang cukup lama soal keberadaan fans Gombloh dan soal memperjuangkan patung Gombloh, Pak Wowok Paramatatwa melipat jaketnya, dan menjadikannya bantal. Ia sejenak merebahkan diri. Jelas karena terlalu lelah perjalanan jauh; namun belum sampai sepuluh menit rebahan, ia segera beranjak karena teman-teman yang lain minta foto bareng-bareng untuk dokumentasi.

Kurang lebih tiga jam lamanya kebersamaan tersebut, hingga menyeruak satu inti dari segala kehangatan yang terjadi, bahwa: "saya tak lagi sendiri". 

Remy menemukan mimpinya, yakni bertemu kawan-kawan baru yang mengidolai Bapaknya, Affandy dan Huda juga demikian, Wawan 'Sret Kartolo' tak lagi sendiri dan sirnalah sudah kebingungannya mencari kawan sesama fans Gombloh, Om Wowok menemukan semua kawan sehati dalam menggemari Gombloh, walaupun ia harus rela melintasi kota demi kota, Mbak Unnie tak lagi sendiri dalam memperjuangkan keberadaan patung Gombloh, Arief sang kolektor juga menemukan kawan-kawan baru yang dapat  diajak berbincang soal sang idola, berikut sejarahnya.

"Di gubuk di angan-angan / engkau kan membaca / di lekuk terjal bukitan / kau aku BICARA"

Penggalan lirik Gombloh dalam lagu berjudul 'Ranu Pane' itu seakan menuntaskan kerinduan sekaligus sebagai cerminan kehangatan dalam diri kami semua terhadap sosok sang maestro. Nyatanya fans Gombloh masih ada, kami masih bersama, bersaudara dalam satu kesukaan yang sama terhadap sosok Soedjarwoto Soemarsono yang akrab dipanggil Gombloh.

Selanjutnya, secara aklamasi, Affandy Willy Yusuf terpilih sebagai ketua MoGers Surabaya. Gagasan dan ide-idenya sangat dinanti-nantikan oleh semua fans Gombloh. Agenda selanjutnya dari MoGers Surabaya adalah memperjuangkan keberadaan patung Gombloh, sekaligus peresmian komunitas Memories of Gombloh & Lemon Tree's Anno '69 Surabaya. Kami share pertemuan itu di whatsapp, dan seluruh fans Gombloh dari berbagai daerah menyambutnya dengan gembira. Kawan-kawan dari Rembang, Pati, Blora, Jepara dan Kudus bahkan mengungkapkan agenda mereka untuk sama-sama membuat komunitas Memories of Gombloh.

Walau sederhana dan sejenak, pertemuan itu begitu berkesan, dan sekali lagi membawa pesan: "saya tak lagi sendirian"

"Ternyata semangatmu tidak sendirian, kawan!" Sesuai seruan Gombloh dalam salah satu lagunya.

Malam tunjuk pukul tiga.
Selamat malam, Surabaya.

Sunday, May 27, 2018

Yetty Sumprit, Pengepang Rambut Gombloh

Sumprit kecil dan perkenalannya dengan Gombloh

"Prit, mengko nek awakmu wes rabi lan nduwe anak lanang, anakmu gowoen nang aku, mengko tak urukki olah vokal (Prit, nanti kalau kamu sudah menikah dan mempunyai anak laki-laki, bawalah anakmu kepadaku, nanti akan kuajari olah vokal),"

Janji Gombloh itu tak pernah dilupakan oleh seorang Yetty Wijayani. Sayang, janji itu tidak pernah terlaksana karena sang maestro keburu meninggal dunia.
Yetty Wijayani, wanita asli Surabaya itu, di tahun 1981 masihlah seorang gadis yang sedang menempuh pendidikan di SMA Pemuda. Dulu, SMA tersebut terletak di kawasan Balai Pemuda, Surabaya.
SMA Pemuda pada masa itu kegiatan belajar-mengajarnya menggunakan gedung SMA 6, Surabaya. Jadi, kalau pagi digunakan SMA 6, siangnya digunakan oleh SMA Pemuda.

Sebagai gadis SMA jaman old yang tomboy, Yetty memiliki kegemaran pada kesenian, utamanya musik. Ia sangat menggemari Gombloh dan lagu-lagunya.
Mengingat sekolahnya yang terletak di sekitar gedung Balai Pemuda dan reputasi gedung tersebut sebagai base camp-nya para seniman ngetop se-Surabaya, maka tidak heran jika sepulang sekolah Yetty selalu menyempatkan diri untuk mampir ke Balai Pemuda, sekedar bertemu Gombloh dan musisi-musisi idolanya seperti Vicky Vendi, Frangky Sahilatua dsb.

Yetty lain dari teman-teman perempuan sebayanya ketika itu. Jika anak perempuan lainnya terlihat malu-malu sambil setengah jaim, Yetty tampil paling berani. Ia tidak segan mendekati idolanya dan mengajaknya berbincang-bincang. Tak heran, seniman-seniman Balai Pemuda, termasuk Gombloh, menjadi sangat akrab dengan Yetty.

"Lho mrene maneh arek iki. Koen gak mbolos kan? Nek mbolos tak laporno gurumu (lho, anak ini kesini lagi. Kamu tidak bolos, kan? Kalau kamu bolos akan kulaporkan gurumu)!," Ujar Gombloh ketika melihat Yetty datang.

"Gak cak. Iki wayahe prei (Enggak, cak, ini memang waktunya libur). Sumpah ," tukas Yetty

"Prei apane? Wong gak tanggal abang kok prei! Ojok mbujuk koen (libur apanya? Orang ini bukan tanggal merah kok kamu bilang libur! Jangan bohong kamu),!"

"Gurunya rapat, cak. Sumprit (sumprit adalah plesetan kata sumpah),!" Jawab Yetty.

"Buaahahahaha...yowes mulai hari ini sampai selamanya kamu tak panggil sumprit!" Ucap Gombloh sambil tertawa.

Walhasil, nama Sumprit disematkan oleh Gombloh sebagai nama panggilan seorang gadis remaja yang bernama asli Yetty Wijayani tersebut.


Kumal tapi Wangi dan Tak Pernah Bawa Dompet

"Ayo melu aku, Prit. Tak ajak mlaku-mlaku (ayo ikut aku, Prit. Kuajak jalan-jalan)," ucap Gombloh kepada Yetty pada suatu siang.

Mobil Gombloh ketika itu adalah Jeep CJ-7. Mobil yang tetap tampak besar dan gagah walaupun dikemudikan oleh supir yang kurus kering. Dengan mobil itulah Gombloh kerap mengajak Yetty jalan-jalan.

"Saya masih ingat, dalam Jeep CJ-7 itu penuh barang-barang bawaan Gombloh. Kekhasannya, Gombloh selalu membawa makanan & minuman yang ditaruhnya di bagian belakang mobil,".

Lantas, mengapa Gombloh tetap kurus walaupun membawa bekal banyak?
"Ya jelas tetap kurus. Walaupun bawa makanan, tapi dia sering lupa makan. Seringnya, kawan-kawan Cak Gombloh yang setiap hari sibuk menghabiskannya," ujar Yetty.


Pakaian yang dikenakan Gombloh adalah kaos oblong dengan jaket & celana jeans belel serta topi dan kacamata hitam. Sekilas, seperti orang lusuh dan kumal yang tidak pernah mandi; tetapi jangan salah, Gombloh selalu wangi.

"Cak Gombloh sangat memperhatikan soal parfum. Dia banyak menyimpan koleksi parfum di rumahnya. Jangan heran, walaupun kelihatannya tampak seperti wong gak tau adus (orang tidak pernah mandi), tapi Gombloh selalu wangi," kenang Yetty.

Selain wangi, mobil jeep dan makanan, Gombloh punya kesukaan tersendiri soal rokok. Sang maestro tidak pernah membeli rokok kemasan, namun lebih suka rokok lintingan; jadi Gombloh selalu membawa sebungkus besar tembakau dan kertas rokok, dan ia melinting rokoknya sendiri. Gombloh adalah perokok berat yang sayangnya tak mengimbanginya dengan pola hidup sehat, makanya beliau selalu bermasalah dengan kesehatannya.
Satu lagi, Gombloh tidak pernah membawa dompet.

"Prit, tukokno kopi nang warung sebelah (Prit, belikan kopi di warung sebelah)," kata Gombloh sambil merogoh sakunya yang sempit tapi terlihat menggelembung.

Ketika mengeluarkan jarinya dari saku, brul! Uangnya dalam saku yang lungset dan tidak ditata dengan rapi itu ikut keluar dan berjatuhan di lantai.
"Ya ampun cak! mbok ya bawa dompet biar uangnya nggak lungset dan tercecer seperti itu!," tukas Yetty.

"Koyok arek wedok ae katek nggowo dompet (seperti anak perempuan saja pakai bawa dompet)!"

Begitulah Gombloh yang unik bin aneh itu. Uang hasil kerjanya, berapapun jumlahnya, selalu dilipat sekenanya dan disimpan dalam saku celana jeansnya.


Mengepang Rambut Gombloh dan Saat Terakhir bersamanya

"Prit, reneo, nduk (Prit, kesinilah, nak)!" Kata Gombloh memanggil Yetty, suatu sore di Balai Pemuda.

Ketika Yetty menghampiri Gombloh dan duduk disebelahnya, Gombloh malah berbalik badan, memunggungi Yetty.
"Karepe yoopo iki cak? Kate njaluk kerokan ta (maunya apa ini cak? Apa mau minta kerokan)?," Tanya Yetty.

"Enggak. Ini rambut panjangku enaknya diapakan?" Tanya Gombloh.

"Dikelabang aja beres!"

"Idemu apik! Lakukan!"

Sore itu Yetty mengelabang (mengepang) rambut Gombloh. Rambut pria kelahiran Jombang itu dikepang satu, kemudian semakin trendy dengan topi khasnya. 
Rupanya Gombloh suka dengan gaya kepang kreasi Sumprit itu dan setiap kali menjelang tampil, ia selalu meminta bantuan Yetty untuk mengepang
rambutnya.

Sampai pada suatu pagi, Gombloh kembali memanggil Yetty untuk mengepang rambutnya. Hari itu ia rencananya akan perform di TVRI bareng Titi Qadarsih.

"Prit, kelabangen maneh rambutku (Prit, kepang lagi rambutku)!" Ujar Gombloh.

"Kene tak kelabangno, cak. Katene tampil nangdi rek (Sini saya kepang, cak. Mau tampil dimana)?"

"Nang TVRI karo Titi Qadarsih. Awakmu kudu melu (tampil di TVRI bareng Titi Qadarsih. Kamu harus ikut)!"

"Waduh cak, sepurane, aku sepisan iki gak isok melok, soale onok acara karo konco-konco sekolah nang Jawa Tengah (waduh maaf cak, kali ini aku tidak bisa ikut. Ada acara bersama teman-temanku di Jawa Tengah)."

"Lhoalah..rekreasi ta? Waduh, aku kapan rekreasine yo? Gak tau rekreasi, rek. Bekne mari perform iki aku isok budal rekreasi nang panggon sing apik! (Lhoalah..rekreasi ya? Waduh, aku kapan bisa rekreasi ya? Aku nggak pernah rekreasi. Barangkali setelah perform ini aku bisa pergi rekreasi ke tempat yang bagus)," ujar Gombloh.

Tak disangka, kata-kata Gombloh itu menjadi firasat kepergiannya, sebab, penampilan di TVRI bersama Titi Qadarsih itu adalah penampilan terakhirnya sebelum Gombloh meninggal dunia. 

Ketika itu Yetty tidak menyadari bahwa pagi itu adalah saat dimana ia terakhir kalinya bertemu dan berbincang-bincang dengan Gombloh.
Selama beberapa hari di Jawa Tengah, Yetty mendengar kabar dari televisi jika musisi idolanya itu telah meninggal dunia. Air matapun menetes dari kedua matanya. Momen rekreasi yang harusnya diisi kegembiraan, malah berujung pada kesedihan. Bagaimana tidak, idola sekaligus sosok yang ia anggap sebagai sahabat, dan seringkali tampil sebagai sosok ayah itu tidak bisa lagi ditemuinya.

"Saya tidak pernah absen ikut Cak Gombloh untuk tampil di berbagai acara; namun, justru pada saat terakhir saya malah tidak bisa menemaninya," kenangnya.

"Padahal Gombloh juga pernah bilang akan menunggu saya sampai menikah dan ketika saya punya anak, anak saya bakal diajari olah vokal," tambahnya.

Sosok Gombloh yang dikenang oleh Yetty sampai hari ini adalah sosok yang bersahaja, sederhana, juga apa adanya. Ia bukan artis dengan kehidupan glamour, melainkan seniman yang bergaul akrab tak pandang siapa. Berteman dengan tukang becak, pemulung, anak-anak sekolah, pengamen, sampai memberi sejumlah gajinya demi memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka yang terlantar, bahkan pekerja seks komersial ditolongnya juga.

"Sampai saat ini ketika mendengar lagu-lagu Cak Gombloh, saya jadi ingat kebaikannya, juga sifat ngeyelnya jika dinasehati tentang kesehatannya. Saya juga ingat gigi ompongnya, tiga buah topi yang pernah diberikannya kepada saya, juga hingga hari ini saya masih dapat merasakan rambutnya yang pernah saya kepang dengan jari saya ini. Tidak pernah saya temui lagi orang seperti Cak Gombloh. Dia orang baik. Saya berani Sumprit," pungkasnya sambil tersenyum mengenang nama 'Sumprit', nama panggilan kesayangannya yang diberikan oleh Gombloh sendiri.



Sidoarjo, 5 Mei 2018
Dimas SEKARING JAGAD.

Tuesday, May 3, 2016

Mengenang Gombloh ala Cak Gatot

Lereng Gunung Semeru: Antara Kehangatan dan Kebersamaan

Awalnya, seorang musisi senior Surabaya, Priyatna -kami memanggilnya 'Pak Pri'-, memberi pesan singkat di whatsapp: "Secara pribadi aku nggak kenal Gombloh, tapi aku berkawan dekat dengan Cak Gatot Yuwono. Beliau gitaris pertama Gombloh dan merupakan gitaris blues yang ilmu bluesnya itulah yang telah kuturunkan pada kalian semua. Dulu kami tetanggaan di daerah Kebraon, Surabaya. Anakku sering kutitipkan disana waktu kecil. Kalau mau sowan (berkunjung), datang aja ke resepsi putrinya besok di Malang".

Cak Gatot (tengah)
Pak Pri adalah gitaris sepuh Surabaya yang dianggap sebagai guru besar. Beliau memiliki puluhan murid, diantaranya adalah Tatok dan Sahtanta Eka Cibi, yang keduanya adalah gitaris Sekaring Jagad. Ratusan murid lainnya tersebar di seluruh daerah. Di media sosial, murid-murid Pak Pri membentuk komunitas melalui grup facebook, whatsapp, line dan bbm bernama 'Paguyuban Murid Priyatna'. Pak Pri mengetahui jika kedua muridnya, Tatok dan Sahtanta Cibi tergabung dalam Sekaring Jagad, band yang mengkhususkan diri membawakan lagu-lagu Gombloh di setiap penampilannya. Maka dari itu beliau berinisiatif mempertemukan kami dengan Cak Gatot yang merupakan mantan gitaris Gombloh. 

Sabtu, 16 Mei 2016 pukul 16.00 WIB, saya dan Tatok berangkat menuju Malang. Berdua saja. Beruntunglah hari sedang cerah, jalan juga tidak macet. Kami melewati Sidoarjo, Pandaan, Pasuruan, begitu lancar dan tidak ada halangan berarti. Kami hanya sempat beristirahat di sebuah masjid di daerah Lawang sembari menyeruput segelas es tebu. 15 menit kami melanjutkan perjalanan, dari Lawang melewati Singosari, hingga sampailah kami di kota Malang. Sampai di Malang, kami terus bergerak ke arah timur, arah Cemorokandang, sebuah daerah yang terletak di lereng gunung Semeru. Daerah Cemorokandang yang kami lewati udaranya cukup sejuk. Ketika itu jarum jam menunjukkan pukul 20.00 WIB. Petunjuk alamatnya adalah kompleks perumahan Villa Gunung Buring di daerah Cemorokandang. Sudah puluhan orang kami tanyai, tapi nyatanya kami tetap kesasar juga hingga hampir menuju kawasan hutan dan jurang. Kami kesasar cukup jauh dan harus putar balik. Sekitar 10 kilometer kami menempuh jalan balik hingga menemukan kompleks perumahan yang dimaksud. 

Masuk ke kompleks perumahan, gang rumah Cak Gatot berada di paling ujung. Kami masuk ke gang rumahnya dan menemukan terop pernikahan. Ketika masuk, mata dan hidung kami tertuju pertama kali kepada mangkuk-mangkuk gulai kaki kambing yang aroma lezatnya begitu menggoda. Lalu tak lama kemudian kami disambut oleh seorang wanita sepuh yang ternyata istri dari Cak Gatot. 

"Oh ini tamu-tamu dari Surabaya yang kenalannya Pak Pri itu ya? Monggo, silahkan, Bapak ada di dalam". Begitu beliau mempersilahkan.

Kamipun masuk ke dalam halaman rumahnya. Di deretan kursi lipat, di pojokkan duduk seorang sepuh yang menggenggam sebuah tongkat di tangan kirinya. Dengan ramah bergaya khas Arek Suroboyo, orang itu berujar, "Lhoalah iki ta Muride Pri. Ayo lungguh kene mas, lungguh jejerku karo-karo! (Oo ini muridnya Pri, ayo duduk sini, mas, bersebelahan denganku)".

Sosok itu adalah Cak Gatot Yuwono. Beliau memperkenalkan diri dengan ramah. Tampak, ketika berbicara kadang-kadang tangan beliau bergetar. Untuk beranjak saja beliau kesulitan. Ternyata, beliau mengatakan pada kami kalau beliau habis sembuh dari stroke. Cak Gatot cukup periang. Ia selalu senang jika ada tamu dan mengajaknya ngobrol. Semangatnya akan tambah menggebu-nggebu ketika diajak bicara soal musik, apalagi soal Gombloh.  

"Oh iya, saya dengar dari mas Pri kalau hari ini datang dua orang musisi yang suka membawakan lagu-lagu Gombloh. Rupanya mereka adalah sampean berdua.. Iya, betul kata mas Pri, saya pernah mengikuti proses kreatif Gombloh dan menggarap, kalau tidak salah, sekitar 4 album".
Lalu kemudian Cak Gatot bercerita jika Pak Pri juga sempat belajar pada beliau soal musik, terutama blues. Tatokpun menyahuti, "Iya betul Cak, Pak Pri pernah bilang pada saya kalau beliau pernah belajar di Cak Gatot. Lha Pak Pri itu guru saya, jadi hitungannya Cak Gatot ini termasuk kakek guru saya," canda Tatok. Kamipun tertawa bersama.

Rasa penasaran kami terhadap sosok Cak Gatot rupanya tak berlangsung lama. Beliau membuka diri tentang siapa sosoknya. Rupanya, Cak Gatot adalah seorang pekerja seni yang mendedikasikan diri sepenuhnya pada musik. Sebelum bermain dengan Gombloh, ia tergabung dalam grup musik Avanti, yang diantara personilnya adalah (alm) Inisisiri, drummer Kantata Takwa, dan Niki Kosasih, vokalisnya yang juga penggiat teater serta pernah terlibat dalam produksi film 'Saur Sepuh', yang terkenal pada dekade 90'an. Band Avanti waktu itu kerap bermain di kafe-kafe, pub dan hotel-hotel ternama di Indonesia. Setelah keluar dari Lemon Trees, Cak Gatot melanjutkan eksistensi Avanti sebagai home band di berbagai tempat. Beliaupun sempat pula merantau ke Bali selama beberapa tahun dan bermain musik disana.

"Saya juga pernah membentuk BBC Band yang di dalamnya ada personil-personil seperti Soelih dan Bambang John. Tau Soelih, kan? Beliau vokalis Gombloh. Beliau itu juga pernah bikin album duet bareng Bambang John. Namanya duet 'John Soelih', jauh lebih dulu terkenal, dan mungkin album duet pertama sebelum munculnya duet fenomenal 'Frangky and Jane'," ujar Cak Gatot, yang kini, piringan hitam BBC Band yang berjudul 'Cipta Manusia', tersimpan rapi di Galeri Musik Malang. Selain itu, beliau juga pernah berproses menggarap album bareng Naniel Yakin, pemain alat musik tiup di Kantata Takwa, yang mana beliau juga pernah bergabung dengan Gombloh di Lemon Tree's Anno '69.

"Saya itu sejak kecil selalu berkelana dari satu tempat ke tempat lain. Maklum, ayah saya profesinya tentara yang sering ditugaskan di berbagai tempat di Indonesia. Jadi masa kecil saya, saya lalui di Sidoarjo, tepatnya di daerah Ngelom, Geluran, Sepanjang, sampai kelas dua SD. Kemudian pindah di Makassar. Ketika menginjak bangku SMA, saya kembali ke Surabaya. Setelah lulus, saya kuliah di Akademi Pendidikan Tekhnologi Negeri (APTN), di Jalan Ngaglik, Surabaya. Lalu kemudian drop out..yah, saya lebih fokus bermusik, sama seperti Gombloh yang drop out dari ITS, hahaha...", kenang gitaris yang menyukai permainan gitar Mr.335 alias Larry Carlton.

"Hei, obrolannya dilanjut nanti. Ayo kalian makan dulu,". Kamipun dipersilahkan untuk menyantap hidangan. Hari itu sebenarnya bertepatan dengan resepsi pernikahan putri Pak Gatot. Acaranya siang hari, sedangkan kami datang malam. Walhasil, semangkuk besar gulai kaki kambing yang sudah menangkap mata kami sejak tadi, kami nikmati berdua saja. Saat asyik makan, Cak Gatot dengan ponselnya kemudian menunjukkan pada kami lagu-lagu dan aransemen-aransemen gitar yang disukainya. Setelah itu, gantian kami yang menunjukkan padanya lagu-lagu Gombloh yang kami aransemen kembali lewat band kami Sekaring Jagad. Beliau mengangguk-angguk dan cukup senang katanya, melihat anak-anak muda yang membawakan kembali lagu-lagu Gombloh yang dimasa kini karya-karya Gombloh perlahan-lahan mulai dilupakan. Di tengah dinginnya lereng gunung semeru, persahabatan diantara kami bak nyala api unggun. Kehangatan menyeruak. hawa yang menusuk tulang sirna, juga lelah sepanjang perjalanan.

Imajinasi Melampaui Batas

Seusai makan, kamipun kembali duduk bersama Cak Gatot. Perbincanganpun kembali menghangat. Apalagi, Cak Gatot bercerita mengenang masa-masa indahnya bersama Gombloh.
"Awalnya, Gombloh yang punya banyak kawan itu bercerita kalau dia punya lagu-lagu ciptaan sendiri. Lalu dia berinisiatif mengajak saya dan kawan-kawan lain untuk bermusik. Setelah menjalani beberapa kali latihan, dipilihlah personil-personil yang dirasa cocok dengan karakternya. Sudah beberapa kali bongkar-pasang player karena banyak pula yang nggak sesuai dengan lagu-lagu ciptaan Gombloh yang nggak umum, yang berat", ujarnya.

Dikatakan Cak Gatot, Gombloh memiliki idealisme yang khas, juga imajinasi yang tidak berlebihan jika dikatakan melampaui imajinasi manusia pada zamannya. "Bayangkan, ketika musik didominasi oleh lagu-lagu yang mendayu-dayu, juga trend bangkitnya musik rock 80an, Gombloh tampil dengan musik folk blues sekaligus dengan kenyelenehan lirik-liriknya. Saya kira nggak ada yang segila Gombloh dengan lagu ciptaannya yang berat ketika itu. Pernah dengar 'Dimensi Antar Ruang', 'Nadia dan Atmosphere', juga '1.000.000 tahun Sesudah Masehi'? Coba dengar, liriknya berat lho itu!".

Dalam lirik '1.000.000 Tahun Sesudah Masehi', Cak Gatot sempat menyaksikan proses penciptaannya. Ketika Gombloh menawarkan lagu tersebut, dikatakan oleh Gombloh, bahwa sederhananya, lagu itu bercerita tentang kondisi bumi pada tahun sejuta masehi. Sudah tidak ada lagi keasrian, kesejukan. Tinggal hanya gersang, kering, panas dan tanpa kehidupan. 

"Lalu ada juga lagu ciptaan Gombloh berjudul 'Tetralogi Fallot'. Lagu itu dinyanyikan oleh adiknya Gombloh, juga kalau nggak salah duet dengan Soelih. Liriknyapun berat. Ketika saya bertanya, 'Mbloh, iki lagu nyeritakno opo seh sakjane (Mbloh, ini lagu sebenarnya bercerita tentang apa?'; dengan enteng Gombloh menjawab, 'Gampangane, iki lagu nyeritakno penyakit. Wes ngono ae (Gampangnya, ini lagu tentang penyakit, udah gitu aja),' katanya". Menurut Cak Gatot, nyatanya, lagu itu lebih banyak berbicara tentang kritik Gombloh tentang ketimpangan sosial, yang inspirasinya terilhami oleh adiknya yang seorang dokter. "Itulah luar biasanya Gombloh. Apa saja dapat menjadi inspirasinya. Awalnya Tetralogi Fallot itu inspirasinya berasal dari adiknya yang kerja jadi dokter. Dokter kan hubungannya dengan penyakit. Lha Gombloh akhirnya bikin lagu yang awalnya tentang penyakit, kemudian diberi bumbu-bumbu, jadilah sebuah lagu yang berubah menjadi sasaran kritik terhadap kondisi sosial Indonesia," terang Cak Gatot.

Lebih lanjut, Cak Gatot bercerita jika Gombloh memiliki niat membuat sebuah lagu yang hingga kini tidak kesampaian. Ceritanya, Gombloh pada suatu ketika tertarik dengan kebiasaan anak-anak muda kota Surabaya, yaitu mengadu burung dara. Istilah Jawanya 'ngetren doro'. Hingga pada suatu siang, saat Gombloh datang ke studio rekaman, ia saat itu terlihat termenung. "Lapo mbloh? (Kenapa Mboh?)", tanya Cak Gatot. "Aku mari oleh inspirasi. Kapan-kapan aku kudu nggae lagu sing nyeritakno bab ngetren doro (Aku habis dapat inspirasi. Kapan-kapan aku harus membuat lagu yang menceritakan tentang kebiasaan adu burung dara)" kata Gombloh. 

Sayang disayang, lagu itu tidak sempat terealisasi sampai saat Gombloh meninggal dunia.
"Begitulah awalnya, hingga kemudian Gombloh akhirnya memiliki ide untuk mengajukan band kami di perusahaan rekaman Golden Hand, yang waktu itu lokasinya di dekat THR, Surabaya," tuturnya.

Sempat dikira Pelawak Srimulat
Ada cerita lucu ketika pertama kali Gombloh mendatangi lokasi studio Golden Hand. Gombloh yang penampilannya semrawut, kurus kering serta berambut gondrong, sempat disangka pelawak Srimulat oleh pihak security studio Golden Hand.

"Jadi para security itu nggak percaya kalau Gombloh itu musisi yang mau menawarkan lagunya ke Golden Hand. Bahkan, security itu mengira kalau Gombloh adalah seorang pelawak Srimulat. Kan kebetulan gedung Srimulat ada di THR, dekat lokasi studio Golden Hand. Lha kata mereka lagi, wajahnya Gombloh nggak ada perawakan musisinya sama sekali..Malah lebih terlihat seperti pelawak..hahaha..kurang ajar memang," ujar Cak Gatot sembari tertawa lepas.

Pihak studio rekaman Golden Hand waktu itu menyuruh Gombloh untuk menunjukkan lagu-lagunya. Tak berapa lama kemudian, Golden Hand setuju untuk memproduksi lagu-lagu karya musisi kelahiran Jombang itu. "Sebenarnya Golden Hand agak ragu ketika mendengar lagu-lagu yang berat dan penuh dengan makna yang satu-dua diantaranya susah dicerna itu. Namun, di sisi lain, Golden Hand melihat Gombloh yang begitu berkarakter, mulai dari warna suaranya yang khas, lirik-lirik lagunya yang unik dan cenderung sastrawi, hingga pada rasa nasionalismenya. Di era itu, belum banyak band-band yang mengusung tema cinta tanah air. Dan tentu saja, agar Golden Hand bisa dapat pemasukan dari penjualan album-album Gombloh, maka di setiap album Gombloh, perlu disisipkan satu-dua lagu yang ringan, yang sesuai dengan selera pasar. Gomblohpun menyetujuinya, dan, dari situlah karir keartisan Gombloh semakin melambung," ungkap Cak Gatot.

Melebur bersama Semua Kalangan

Setelah dikontrak Golden Hand dan sudah tenar sebagai artis, Gombloh tetaplah Gombloh yang sederhana. Beliau tidak terlena dengan gaya hidup artis yang glamour. Seorang Gombloh tidak mau tinggal di ibukota, melainkan memutuskan untuk tetap tinggal di Surabaya dan kerap kali tidur di mabes Bengkel Muda yang terletak di dalam kompleks Balai Pemuda, Surabaya. Kebiasaan begadang dan lupa makan adalah cerminan keseharian Gombloh. Selain itu, ia juga kerap mengunjungi masyarakat-masyarakat di kampung-kampung kumuh, bergaul dengan para tukang becak dan orang-orang pinggiran. Bahkan, Gombloh akrab dengan penghuni-penghuni lokalisasi prostitusi di Surabaya. Bukan untuk wisata seks, melainkan menjadikan orang-orang penghuni lokalisasi itu sebagai teman, membantunya dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga mereka, sekaligus sebagai sumber inspirasi.

"Itulah mengapa setiap kali dapat bayaran dari hasil manggung, Gombloh selalu memanggil kawan-kawannya yang jumlahnya bejibun. Kalau ngumpul bisa sampai 100 orang dan dia mengajak mereka ke sebuah warung makan. Mereka semua ditraktirnya makan," kata Cak Gatot.

"Oleh karena itu jika habis manggung, istilahnya Gombloh itu jadi orang kaya sesaat. Besoknya, setelah bayaran manggung habis, dia kembali ngutang duit dan minta rokok sama temannya..hahaha..," lanjut Cak Gatot. Beliau tertawa saat menceritakan gaya kesenimanan sang Maestro, dan dari situlah Cak Gatot melihat kesederhanaan dan meleburnya Gombloh bersama orang-orang dari semua kalangan.

Pencipta Lagu Ulung

Selain akrabnya Gombloh dengan kawan-kawan serta masyarakat, Gombloh dikenal sebagai pencipta lagu ulung. Cak Gatot berkisah, pernah suatu kali Gombloh di-deadline oleh produser Golden Hand untuk menyetor lagu-lagunya. Beberapa hari mendekati hari deadline, Gombloh terlihat santai keluar masuk studio Golden Hand. Kerjaannya hanya latihan bersama band, mengulang  lagu-lagu yang sudah jadi, setelah itu duduk-duduk santai, minum kopi di ruang tamu dan seringkali numpang tidur disana. Produser Golden Hand, Pak Koing namanya, lama-lama menjadi geram. Ia bertanya pada Gombloh, "Mbloh, endi lagumu? Ojok sampek telat koen (Mbloh, mana lagumu? Jangan sampai telat kamu)!" Kata Pak Koing. Mendengar itu, Gombloh yang sedang tidur-tiduran menjawab santai, "Yo ngkok tak gawekno telong lagu pak. Aku tak turu disik. Ngantuk (Ya nanti saya buatkan tiga lagu pak. Saya mau tidur dulu. Ngantuk)," ujar Gombloh yang tidak lama kemudian tertidur lelap.

Rupanya, Pak Koing, produser Golden Hand yang juga pengusaha alat-alat musik itu menunggui Gombloh yang sedang pulas. Cukup lama sampai Gombloh terbangun. Setelah tahu Gombloh mulai membuka mata, kembali Pak Koing menagih janji Gombloh, "Uwes enak turumu? Nek wes enak, ndang mlebuo studio trus nggaweo telung lagu (sudah enak tidurmu? Kalau sudah enak, segeralah masuk studio dan bikinlah tiga lagu)!,".

"Iyo-iyo Pak," ucap Gombloh dengan sedikit sebal. Beliau kemudian mulai masuk studio dan genjrang-genjreng seorang diri dengan gitarnya. Selang 2 jam kemudian, Gombloh memanggil Pak Koing masuk. Di dalam, rupanya Gombloh menunjukkan 3 lagu barunya yang ternyata sudah jadi dalam 2 jam. Setelah puas berbincang-bincang dan berdiskusi, Gombloh dan Pak Koing keluar studio. Diluar studio, kawan-kawan band seperti Cak Gatot dan keyboardis Wisnu terlihat santai sambil ngopi dan makan cemilan. Mereka tertawa melihat Pak Koing yang keluar studio sembari terheran-heran melihat kemampuan Gombloh menciptakan banyak lagu dalam hitungan jam. 

"Pak Koing, sakdurunge sampean lak wes tak kandani, nyiptakno lagu iku perkoro gampang gae Gombloh. Sampean tenang ae Pak, cukup lungguh sing anteng karo ngopi (Pak Koing, sebelumnya anda kan sudah saya beritahu, urusan menciptakan lagu itu perkara mudah buat Gombloh. Anda tenang saja Pak, cukup duduk yang nyaman sambil ngopi),"  ucap Cak Gatot kepada Pak Koing waktu itu sembari tertawa.

"Lha iki batas waktune wes cedek. Lak yo ngelu aku nek sampek gak mari. Yowes sesuk maneh, nek Gombloh mrene tak kongkone turu ae. Nek wes melek, tak kongkone nggae lagu. Ketokke nek pengen nyiptakno lagu, arek iki (Gombloh) kudu turu disik (Lha ini deadline sudah dekat. Kan aku pusing kalau sampai (lagunya) nggak selesai. Ya sudah, besok lagi kalau Gombloh kesini, aku suruh tidur saja. Kalau sudah bangun, aku suruh bikin lagu. Kelihatannya kalau pengen menciptakan lagu, anak ini (Gombloh, maksudnya) harus tidur dulu)," jawab Pak Koing waktu itu. Semuanya larut dalam tawa. Tidak halnya dengan Gombloh, ia kembali tidur.

Gaya Kesenimanan yang Susah Diikuti

Salah satu alasan Cak Gatot memutuskan keluar dari Lemon Trees, adalah karena beliau tidak mampu mengikuti gaya kesenimanan sang maestro. Mulai dari latihan yang tidak terjadwal, begadang, kebiasaan Gombloh yang suka berpetualang dari satu tempat ke tempat lain, membuat segala yang telah direncanakan jadi batal.

"Terus terang saya sulit mengikuti gaya Gombloh. Misalnya, kalau besok sudah ada janji latian, atau sesi wawancara, Gombloh tiba-tiba menghilang entah kemana. Beberapa hari kemudian dengan klewas-klewes, Gombloh datang dan bilang kalau dia habis jalan-jalan, refreshing katanya. Aneh kan? Masa refreshing harus bolak-balik? Kalau tidak refreshing, seringkali alasannya ia sedang beranjangsana ke rumah kawan-kawannya. Semua orang tahu, kalau kawan Gombloh itu ada beratus-ratus orang. Kalau mau dianjangsanai satu persatu, ya bisa setahun nggak selesai-selesai. Sementara sebagai sebuah band, kami harus sering ketemu, diskusi dan latihan. Waktu itu, kemampuan saya untuk mengikuti gaya kesenimanan Gombloh pada akhirnya mencapai batasnya. Saya tidak mampu, dan akhirnya memutuskan untuk berhenti," kenang Cak Gatot.

Waktu itu Cak Gatot mengutarakan keputusannya untuk berhenti dari Lemon Tree's. Gomblohpun dengan berat hati mengiyakan. Tapi itu bukan berarti berakhirnya hubungan pertemanan. Mereka berdua tetap saling mengunjungi dan bertemu dengan akrab di Golden Hand. Waktu itu, posisi Cak Gatot digantikan oleh Cak Pardi. Tidak lama kemudian, Gombloh dan Lemon Trees berpindah produser. Mereka bergabung di Nirwana Record. Cak Pardi sebagai gitaris baru memulai merekam lagu-lagu baru disana, sekaligus mendaur-ulang lagu-lagu lama yang sebelumnya direkam dengan Cak Gatot. 

Cak Pardi (empat dari kanan)
Rupanya, produser baru mereka di Nirwana Record memberi pesan pada Gombloh dan Cak Pardi untuk tidak menghilangkan atau merubah tematik-tematik melodi lagu-lagu sebelumnya yang telah dikreasi oleh Cak Gatot. Walhasil, Cak Pardipun banyak berdiskusi dengan Cak Gatot soal kreasi gitar pada lagu-lagu Gombloh.

"Termasuk tematik melodi pada lagu Kebyar-Kebyar. Itu kreasi saya yang dikembangkan oleh Cak Pardi menjadi lebih rapi dan lebih bernuansa. Cak Pardi hingga kini sering kontak-kontakan dengan saya. Cak Pardi itu gitaris hebat yang permainannya berkarakter, sehingga dapat lebih menghidupkan atau memberi 'nyawa' pada lagu-lagu Gombloh," tutur Cak Gatot.

Di sela perbincangan, saya menyempatkan diri untuk menelepon Cak Pardi.
Panggilan saya dijawab olehnya dan beliau tampak senang ketika mengetahui kami sedang bersama Cak Gatot.

"Memang Cak Gatot itu gitaris Gombloh sebelum saya. Wah, lama juga saya tidak bertemu dengan beliau. Tolong sampaikan salam saya buat Cak Gatot. Dia itu gitaris yang juga menginspirasi permainan gitar saya. Ah, kapan-kapan nanti jika ada waktu saya ingin bertandang ke rumahnya.. salam saja semoga Cak Gatot sehat selalu," pungkas Cak Pardi via telepon.

Akhir Perjumpaan dengan Kakek Guru sekaligus Kakak Kelas

"Saya dulu itu setelah lulus SMP, saya melanjutkan sekolah di SMA Putra Wijaya, daerah Kodam, Jl.Brawijaya. Dari situ saya, selain musik juga tertarik menggeluti ilmu elektro, dan..."

"SMA Putra Wijaya? Kodam? Persit itu Cak?," potong Tatok yang tiba-tiba dihinggapi rasa penasaran ketika Cak Gatot bercerita tentang pengalaman semasa sekolah dulu.

"Iya, saya lulus tahun 1969," tambahnya.

Tatok terlihat kaget. Sontak, ia mengatakan, "Lho Cak, saya juga lulusan situ. Dulu memang namanya SMA Putra Wijaya, sekarang diubah jadi SMA Kartika. Saya lulus tahun 1990..wah, salaman dulu, Cak! Kita sealmamater!," ujar Tatok sembari mengulurkan tangannya.

"Wah, saya ternyata kakak kelas sampean terpaut 21 tahun," ujar Cak Gatot sambil tersenyum dan menyambut uluran tangan Tatok.

Pertemuan malam itu sungguh luar biasa bagi kami. Terlebih Tatok, karena selain dapat bertemu dengan gitaris Gombloh yang punya banyak cerita, yang juga guru dari guru gitarnya (Pak Pri), yang ternyata juga sealmamater dengan Tatok. Terlihat dari raut wajahnya, Tatok begitu berbunga-bunga. Jarang sekali ia menemui kawan sealmamaternya yang jadi musisi seperti Cak Gatot. "Keren!!," katanya berulang-ulang. 

Perlahan bulan sabit diatas langit semakin meruncing. Pembicaraan kami telah mengasahnya hingga tampak begitu tajam. Malam dan hawa dingin Semeru benar-benar larut dalam sepanjang perbincangan. Kamipun tersadar. Cak Gatot yang baru pulih dari sakitnya juga butuh istirahat. Terlebih, hari itu pastilah hari yang sangat melelahkan bagi Cak Gatot, sebab sedari pagi ia sibuk dengan pesta pernikahan putrinya. Kamipun meminta maaf karena telah mengajaknya ngobrol sampai larut malam sembari berpamitan.

"Wah, saya ini justru senang kalau ada yang ngajak ngobrol soal musik. Sampai pagipun saya ladeni. Karena hiburan saya sekarang ya sebatas mendengarkan musik dan ngobrol bersama para kawan tentang musik. Apalagi coba? Gitar saya sudah terjual semua karena biaya pengobatan saya sekaligus mempersiapkan acara pernikahan putri saya ini. Praktis, setelah kena stroke, saya berhenti bermain gitar. Makanya saya senang kalau ada yang ngajak ngobrol soal musik," ujar gitaris yang juga guru dari ex gitaris Boomerang, John Paul Ivan tersebut.

Sungguh luar biasa sosok Cak Gatot. Kamipun bersalaman, kemudian kami berdua mulai melangkah menuju parkiran. Cak Gatot mengiringi kami sampai halaman rumahnya. Dan belum 100 meter kami melangkah, Tatok tiba-tiba berbalik. Ia lari-lari kecil kearah Cak Gatot.

"Kita salaman lagi ya Cak..kan kita sealmamater, hehehe," ujar Tatok sembari mengulurkan tangannya. Cak Gatot menyambutnya sembari tertawa. Terhitung semenjak datang hingga pulang, sudah 4 kali Tatok bersalaman dengan Cak Gatot. 

Setelah puas bersalaman, kamipun berjalan kembali ke arah parkiran motor. Dari jauh Cak Gatot masih berdiri dan melambai-lambaikan tangannya. Senyumnya yang lebar mengantar perjalanan kami dari Malang ke Surabaya. Perjalanan luar kota pada malam hari kami rasa cukup menyenangkan. Jalanan sepi dan kami menyempatkan singgah untuk minum kopi di sebuah warung di kota Pandaan. Wajah Tatok masih berbinar-binar. "Gak rugi rek, ketemu kakek guru master gitar. Konco sakalmamater pisan (nggak rugi. Ketemu kakek guru master gitar sekaligus teman sealmamater)," katanya setelah menghabiskan secangkir kopi hitam.

15 menit kemudian kami meneruskan perjalanan pulang ke rumah kami masing-masing. Surabaya sudah setengah terlelap diambang pagi. Dentang jam berbunyi. Pukul tiga. Sampai di rumah rasa lelah sungguh tak ada. Hanya rasa puas, kagum dan tidak sabar. Sayapun mulai mengetik tulisan tentang beliau. Mungkin, jika saya tidak ketiduran, beberapa jam lagi tulisan itu bisa selesai. Namun jika saya sampai ketiduran, saya akan kembali lagi besok. Saya sungguh tidak sabar, dan sudah saya angan-angankan di akhir tulisan saya nanti, akan saya tutup dengan 9 kata:

Semoga sehat selalu, Cak Gatot. Semangatmu tidak sendirian, kawan.

by: GDN.