Tuesday, May 3, 2016

Mengenang Gombloh ala Cak Gatot

Lereng Gunung Semeru: Antara Kehangatan dan Kebersamaan

Awalnya, seorang musisi senior Surabaya, Priyatna -kami memanggilnya 'Pak Pri'-, memberi pesan singkat di whatsapp: "Secara pribadi aku nggak kenal Gombloh, tapi aku berkawan dekat dengan Cak Gatot Yuwono. Beliau gitaris pertama Gombloh dan merupakan gitaris blues yang ilmu bluesnya itulah yang telah kuturunkan pada kalian semua. Dulu kami tetanggaan di daerah Kebraon, Surabaya. Anakku sering kutitipkan disana waktu kecil. Kalau mau sowan (berkunjung), datang aja ke resepsi putrinya besok di Malang".

Cak Gatot (tengah)
Pak Pri adalah gitaris sepuh Surabaya yang dianggap sebagai guru besar. Beliau memiliki puluhan murid, diantaranya adalah Tatok dan Sahtanta Eka Cibi, yang keduanya adalah gitaris Sekaring Jagad. Ratusan murid lainnya tersebar di seluruh daerah. Di media sosial, murid-murid Pak Pri membentuk komunitas melalui grup facebook, whatsapp, line dan bbm bernama 'Paguyuban Murid Priyatna'. Pak Pri mengetahui jika kedua muridnya, Tatok dan Sahtanta Cibi tergabung dalam Sekaring Jagad, band yang mengkhususkan diri membawakan lagu-lagu Gombloh di setiap penampilannya. Maka dari itu beliau berinisiatif mempertemukan kami dengan Cak Gatot yang merupakan mantan gitaris Gombloh. 

Sabtu, 16 Mei 2016 pukul 16.00 WIB, saya dan Tatok berangkat menuju Malang. Berdua saja. Beruntunglah hari sedang cerah, jalan juga tidak macet. Kami melewati Sidoarjo, Pandaan, Pasuruan, begitu lancar dan tidak ada halangan berarti. Kami hanya sempat beristirahat di sebuah masjid di daerah Lawang sembari menyeruput segelas es tebu. 15 menit kami melanjutkan perjalanan, dari Lawang melewati Singosari, hingga sampailah kami di kota Malang. Sampai di Malang, kami terus bergerak ke arah timur, arah Cemorokandang, sebuah daerah yang terletak di lereng gunung Semeru. Daerah Cemorokandang yang kami lewati udaranya cukup sejuk. Ketika itu jarum jam menunjukkan pukul 20.00 WIB. Petunjuk alamatnya adalah kompleks perumahan Villa Gunung Buring di daerah Cemorokandang. Sudah puluhan orang kami tanyai, tapi nyatanya kami tetap kesasar juga hingga hampir menuju kawasan hutan dan jurang. Kami kesasar cukup jauh dan harus putar balik. Sekitar 10 kilometer kami menempuh jalan balik hingga menemukan kompleks perumahan yang dimaksud. 

Masuk ke kompleks perumahan, gang rumah Cak Gatot berada di paling ujung. Kami masuk ke gang rumahnya dan menemukan terop pernikahan. Ketika masuk, mata dan hidung kami tertuju pertama kali kepada mangkuk-mangkuk gulai kaki kambing yang aroma lezatnya begitu menggoda. Lalu tak lama kemudian kami disambut oleh seorang wanita sepuh yang ternyata istri dari Cak Gatot. 

"Oh ini tamu-tamu dari Surabaya yang kenalannya Pak Pri itu ya? Monggo, silahkan, Bapak ada di dalam". Begitu beliau mempersilahkan.

Kamipun masuk ke dalam halaman rumahnya. Di deretan kursi lipat, di pojokkan duduk seorang sepuh yang menggenggam sebuah tongkat di tangan kirinya. Dengan ramah bergaya khas Arek Suroboyo, orang itu berujar, "Lhoalah iki ta Muride Pri. Ayo lungguh kene mas, lungguh jejerku karo-karo! (Oo ini muridnya Pri, ayo duduk sini, mas, bersebelahan denganku)".

Sosok itu adalah Cak Gatot Yuwono. Beliau memperkenalkan diri dengan ramah. Tampak, ketika berbicara kadang-kadang tangan beliau bergetar. Untuk beranjak saja beliau kesulitan. Ternyata, beliau mengatakan pada kami kalau beliau habis sembuh dari stroke. Cak Gatot cukup periang. Ia selalu senang jika ada tamu dan mengajaknya ngobrol. Semangatnya akan tambah menggebu-nggebu ketika diajak bicara soal musik, apalagi soal Gombloh.  

"Oh iya, saya dengar dari mas Pri kalau hari ini datang dua orang musisi yang suka membawakan lagu-lagu Gombloh. Rupanya mereka adalah sampean berdua.. Iya, betul kata mas Pri, saya pernah mengikuti proses kreatif Gombloh dan menggarap, kalau tidak salah, sekitar 4 album".
Lalu kemudian Cak Gatot bercerita jika Pak Pri juga sempat belajar pada beliau soal musik, terutama blues. Tatokpun menyahuti, "Iya betul Cak, Pak Pri pernah bilang pada saya kalau beliau pernah belajar di Cak Gatot. Lha Pak Pri itu guru saya, jadi hitungannya Cak Gatot ini termasuk kakek guru saya," canda Tatok. Kamipun tertawa bersama.

Rasa penasaran kami terhadap sosok Cak Gatot rupanya tak berlangsung lama. Beliau membuka diri tentang siapa sosoknya. Rupanya, Cak Gatot adalah seorang pekerja seni yang mendedikasikan diri sepenuhnya pada musik. Sebelum bermain dengan Gombloh, ia tergabung dalam grup musik Avanti, yang diantara personilnya adalah (alm) Inisisiri, drummer Kantata Takwa, dan Niki Kosasih, vokalisnya yang juga penggiat teater serta pernah terlibat dalam produksi film 'Saur Sepuh', yang terkenal pada dekade 90'an. Band Avanti waktu itu kerap bermain di kafe-kafe, pub dan hotel-hotel ternama di Indonesia. Setelah keluar dari Lemon Trees, Cak Gatot melanjutkan eksistensi Avanti sebagai home band di berbagai tempat. Beliaupun sempat pula merantau ke Bali selama beberapa tahun dan bermain musik disana.

"Saya juga pernah membentuk BBC Band yang di dalamnya ada personil-personil seperti Soelih dan Bambang John. Tau Soelih, kan? Beliau vokalis Gombloh. Beliau itu juga pernah bikin album duet bareng Bambang John. Namanya duet 'John Soelih', jauh lebih dulu terkenal, dan mungkin album duet pertama sebelum munculnya duet fenomenal 'Frangky and Jane'," ujar Cak Gatot, yang kini, piringan hitam BBC Band yang berjudul 'Cipta Manusia', tersimpan rapi di Galeri Musik Malang. Selain itu, beliau juga pernah berproses menggarap album bareng Naniel Yakin, pemain alat musik tiup di Kantata Takwa, yang mana beliau juga pernah bergabung dengan Gombloh di Lemon Tree's Anno '69.

"Saya itu sejak kecil selalu berkelana dari satu tempat ke tempat lain. Maklum, ayah saya profesinya tentara yang sering ditugaskan di berbagai tempat di Indonesia. Jadi masa kecil saya, saya lalui di Sidoarjo, tepatnya di daerah Ngelom, Geluran, Sepanjang, sampai kelas dua SD. Kemudian pindah di Makassar. Ketika menginjak bangku SMA, saya kembali ke Surabaya. Setelah lulus, saya kuliah di Akademi Pendidikan Tekhnologi Negeri (APTN), di Jalan Ngaglik, Surabaya. Lalu kemudian drop out..yah, saya lebih fokus bermusik, sama seperti Gombloh yang drop out dari ITS, hahaha...", kenang gitaris yang menyukai permainan gitar Mr.335 alias Larry Carlton.

"Hei, obrolannya dilanjut nanti. Ayo kalian makan dulu,". Kamipun dipersilahkan untuk menyantap hidangan. Hari itu sebenarnya bertepatan dengan resepsi pernikahan putri Pak Gatot. Acaranya siang hari, sedangkan kami datang malam. Walhasil, semangkuk besar gulai kaki kambing yang sudah menangkap mata kami sejak tadi, kami nikmati berdua saja. Saat asyik makan, Cak Gatot dengan ponselnya kemudian menunjukkan pada kami lagu-lagu dan aransemen-aransemen gitar yang disukainya. Setelah itu, gantian kami yang menunjukkan padanya lagu-lagu Gombloh yang kami aransemen kembali lewat band kami Sekaring Jagad. Beliau mengangguk-angguk dan cukup senang katanya, melihat anak-anak muda yang membawakan kembali lagu-lagu Gombloh yang dimasa kini karya-karya Gombloh perlahan-lahan mulai dilupakan. Di tengah dinginnya lereng gunung semeru, persahabatan diantara kami bak nyala api unggun. Kehangatan menyeruak. hawa yang menusuk tulang sirna, juga lelah sepanjang perjalanan.

Imajinasi Melampaui Batas

Seusai makan, kamipun kembali duduk bersama Cak Gatot. Perbincanganpun kembali menghangat. Apalagi, Cak Gatot bercerita mengenang masa-masa indahnya bersama Gombloh.
"Awalnya, Gombloh yang punya banyak kawan itu bercerita kalau dia punya lagu-lagu ciptaan sendiri. Lalu dia berinisiatif mengajak saya dan kawan-kawan lain untuk bermusik. Setelah menjalani beberapa kali latihan, dipilihlah personil-personil yang dirasa cocok dengan karakternya. Sudah beberapa kali bongkar-pasang player karena banyak pula yang nggak sesuai dengan lagu-lagu ciptaan Gombloh yang nggak umum, yang berat", ujarnya.

Dikatakan Cak Gatot, Gombloh memiliki idealisme yang khas, juga imajinasi yang tidak berlebihan jika dikatakan melampaui imajinasi manusia pada zamannya. "Bayangkan, ketika musik didominasi oleh lagu-lagu yang mendayu-dayu, juga trend bangkitnya musik rock 80an, Gombloh tampil dengan musik folk blues sekaligus dengan kenyelenehan lirik-liriknya. Saya kira nggak ada yang segila Gombloh dengan lagu ciptaannya yang berat ketika itu. Pernah dengar 'Dimensi Antar Ruang', 'Nadia dan Atmosphere', juga '1.000.000 tahun Sesudah Masehi'? Coba dengar, liriknya berat lho itu!".

Dalam lirik '1.000.000 Tahun Sesudah Masehi', Cak Gatot sempat menyaksikan proses penciptaannya. Ketika Gombloh menawarkan lagu tersebut, dikatakan oleh Gombloh, bahwa sederhananya, lagu itu bercerita tentang kondisi bumi pada tahun sejuta masehi. Sudah tidak ada lagi keasrian, kesejukan. Tinggal hanya gersang, kering, panas dan tanpa kehidupan. 

"Lalu ada juga lagu ciptaan Gombloh berjudul 'Tetralogi Fallot'. Lagu itu dinyanyikan oleh adiknya Gombloh, juga kalau nggak salah duet dengan Soelih. Liriknyapun berat. Ketika saya bertanya, 'Mbloh, iki lagu nyeritakno opo seh sakjane (Mbloh, ini lagu sebenarnya bercerita tentang apa?'; dengan enteng Gombloh menjawab, 'Gampangane, iki lagu nyeritakno penyakit. Wes ngono ae (Gampangnya, ini lagu tentang penyakit, udah gitu aja),' katanya". Menurut Cak Gatot, nyatanya, lagu itu lebih banyak berbicara tentang kritik Gombloh tentang ketimpangan sosial, yang inspirasinya terilhami oleh adiknya yang seorang dokter. "Itulah luar biasanya Gombloh. Apa saja dapat menjadi inspirasinya. Awalnya Tetralogi Fallot itu inspirasinya berasal dari adiknya yang kerja jadi dokter. Dokter kan hubungannya dengan penyakit. Lha Gombloh akhirnya bikin lagu yang awalnya tentang penyakit, kemudian diberi bumbu-bumbu, jadilah sebuah lagu yang berubah menjadi sasaran kritik terhadap kondisi sosial Indonesia," terang Cak Gatot.

Lebih lanjut, Cak Gatot bercerita jika Gombloh memiliki niat membuat sebuah lagu yang hingga kini tidak kesampaian. Ceritanya, Gombloh pada suatu ketika tertarik dengan kebiasaan anak-anak muda kota Surabaya, yaitu mengadu burung dara. Istilah Jawanya 'ngetren doro'. Hingga pada suatu siang, saat Gombloh datang ke studio rekaman, ia saat itu terlihat termenung. "Lapo mbloh? (Kenapa Mboh?)", tanya Cak Gatot. "Aku mari oleh inspirasi. Kapan-kapan aku kudu nggae lagu sing nyeritakno bab ngetren doro (Aku habis dapat inspirasi. Kapan-kapan aku harus membuat lagu yang menceritakan tentang kebiasaan adu burung dara)" kata Gombloh. 

Sayang disayang, lagu itu tidak sempat terealisasi sampai saat Gombloh meninggal dunia.
"Begitulah awalnya, hingga kemudian Gombloh akhirnya memiliki ide untuk mengajukan band kami di perusahaan rekaman Golden Hand, yang waktu itu lokasinya di dekat THR, Surabaya," tuturnya.

Sempat dikira Pelawak Srimulat
Ada cerita lucu ketika pertama kali Gombloh mendatangi lokasi studio Golden Hand. Gombloh yang penampilannya semrawut, kurus kering serta berambut gondrong, sempat disangka pelawak Srimulat oleh pihak security studio Golden Hand.

"Jadi para security itu nggak percaya kalau Gombloh itu musisi yang mau menawarkan lagunya ke Golden Hand. Bahkan, security itu mengira kalau Gombloh adalah seorang pelawak Srimulat. Kan kebetulan gedung Srimulat ada di THR, dekat lokasi studio Golden Hand. Lha kata mereka lagi, wajahnya Gombloh nggak ada perawakan musisinya sama sekali..Malah lebih terlihat seperti pelawak..hahaha..kurang ajar memang," ujar Cak Gatot sembari tertawa lepas.

Pihak studio rekaman Golden Hand waktu itu menyuruh Gombloh untuk menunjukkan lagu-lagunya. Tak berapa lama kemudian, Golden Hand setuju untuk memproduksi lagu-lagu karya musisi kelahiran Jombang itu. "Sebenarnya Golden Hand agak ragu ketika mendengar lagu-lagu yang berat dan penuh dengan makna yang satu-dua diantaranya susah dicerna itu. Namun, di sisi lain, Golden Hand melihat Gombloh yang begitu berkarakter, mulai dari warna suaranya yang khas, lirik-lirik lagunya yang unik dan cenderung sastrawi, hingga pada rasa nasionalismenya. Di era itu, belum banyak band-band yang mengusung tema cinta tanah air. Dan tentu saja, agar Golden Hand bisa dapat pemasukan dari penjualan album-album Gombloh, maka di setiap album Gombloh, perlu disisipkan satu-dua lagu yang ringan, yang sesuai dengan selera pasar. Gomblohpun menyetujuinya, dan, dari situlah karir keartisan Gombloh semakin melambung," ungkap Cak Gatot.

Melebur bersama Semua Kalangan

Setelah dikontrak Golden Hand dan sudah tenar sebagai artis, Gombloh tetaplah Gombloh yang sederhana. Beliau tidak terlena dengan gaya hidup artis yang glamour. Seorang Gombloh tidak mau tinggal di ibukota, melainkan memutuskan untuk tetap tinggal di Surabaya dan kerap kali tidur di mabes Bengkel Muda yang terletak di dalam kompleks Balai Pemuda, Surabaya. Kebiasaan begadang dan lupa makan adalah cerminan keseharian Gombloh. Selain itu, ia juga kerap mengunjungi masyarakat-masyarakat di kampung-kampung kumuh, bergaul dengan para tukang becak dan orang-orang pinggiran. Bahkan, Gombloh akrab dengan penghuni-penghuni lokalisasi prostitusi di Surabaya. Bukan untuk wisata seks, melainkan menjadikan orang-orang penghuni lokalisasi itu sebagai teman, membantunya dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga mereka, sekaligus sebagai sumber inspirasi.

"Itulah mengapa setiap kali dapat bayaran dari hasil manggung, Gombloh selalu memanggil kawan-kawannya yang jumlahnya bejibun. Kalau ngumpul bisa sampai 100 orang dan dia mengajak mereka ke sebuah warung makan. Mereka semua ditraktirnya makan," kata Cak Gatot.

"Oleh karena itu jika habis manggung, istilahnya Gombloh itu jadi orang kaya sesaat. Besoknya, setelah bayaran manggung habis, dia kembali ngutang duit dan minta rokok sama temannya..hahaha..," lanjut Cak Gatot. Beliau tertawa saat menceritakan gaya kesenimanan sang Maestro, dan dari situlah Cak Gatot melihat kesederhanaan dan meleburnya Gombloh bersama orang-orang dari semua kalangan.

Pencipta Lagu Ulung

Selain akrabnya Gombloh dengan kawan-kawan serta masyarakat, Gombloh dikenal sebagai pencipta lagu ulung. Cak Gatot berkisah, pernah suatu kali Gombloh di-deadline oleh produser Golden Hand untuk menyetor lagu-lagunya. Beberapa hari mendekati hari deadline, Gombloh terlihat santai keluar masuk studio Golden Hand. Kerjaannya hanya latihan bersama band, mengulang  lagu-lagu yang sudah jadi, setelah itu duduk-duduk santai, minum kopi di ruang tamu dan seringkali numpang tidur disana. Produser Golden Hand, Pak Koing namanya, lama-lama menjadi geram. Ia bertanya pada Gombloh, "Mbloh, endi lagumu? Ojok sampek telat koen (Mbloh, mana lagumu? Jangan sampai telat kamu)!" Kata Pak Koing. Mendengar itu, Gombloh yang sedang tidur-tiduran menjawab santai, "Yo ngkok tak gawekno telong lagu pak. Aku tak turu disik. Ngantuk (Ya nanti saya buatkan tiga lagu pak. Saya mau tidur dulu. Ngantuk)," ujar Gombloh yang tidak lama kemudian tertidur lelap.

Rupanya, Pak Koing, produser Golden Hand yang juga pengusaha alat-alat musik itu menunggui Gombloh yang sedang pulas. Cukup lama sampai Gombloh terbangun. Setelah tahu Gombloh mulai membuka mata, kembali Pak Koing menagih janji Gombloh, "Uwes enak turumu? Nek wes enak, ndang mlebuo studio trus nggaweo telung lagu (sudah enak tidurmu? Kalau sudah enak, segeralah masuk studio dan bikinlah tiga lagu)!,".

"Iyo-iyo Pak," ucap Gombloh dengan sedikit sebal. Beliau kemudian mulai masuk studio dan genjrang-genjreng seorang diri dengan gitarnya. Selang 2 jam kemudian, Gombloh memanggil Pak Koing masuk. Di dalam, rupanya Gombloh menunjukkan 3 lagu barunya yang ternyata sudah jadi dalam 2 jam. Setelah puas berbincang-bincang dan berdiskusi, Gombloh dan Pak Koing keluar studio. Diluar studio, kawan-kawan band seperti Cak Gatot dan keyboardis Wisnu terlihat santai sambil ngopi dan makan cemilan. Mereka tertawa melihat Pak Koing yang keluar studio sembari terheran-heran melihat kemampuan Gombloh menciptakan banyak lagu dalam hitungan jam. 

"Pak Koing, sakdurunge sampean lak wes tak kandani, nyiptakno lagu iku perkoro gampang gae Gombloh. Sampean tenang ae Pak, cukup lungguh sing anteng karo ngopi (Pak Koing, sebelumnya anda kan sudah saya beritahu, urusan menciptakan lagu itu perkara mudah buat Gombloh. Anda tenang saja Pak, cukup duduk yang nyaman sambil ngopi),"  ucap Cak Gatot kepada Pak Koing waktu itu sembari tertawa.

"Lha iki batas waktune wes cedek. Lak yo ngelu aku nek sampek gak mari. Yowes sesuk maneh, nek Gombloh mrene tak kongkone turu ae. Nek wes melek, tak kongkone nggae lagu. Ketokke nek pengen nyiptakno lagu, arek iki (Gombloh) kudu turu disik (Lha ini deadline sudah dekat. Kan aku pusing kalau sampai (lagunya) nggak selesai. Ya sudah, besok lagi kalau Gombloh kesini, aku suruh tidur saja. Kalau sudah bangun, aku suruh bikin lagu. Kelihatannya kalau pengen menciptakan lagu, anak ini (Gombloh, maksudnya) harus tidur dulu)," jawab Pak Koing waktu itu. Semuanya larut dalam tawa. Tidak halnya dengan Gombloh, ia kembali tidur.

Gaya Kesenimanan yang Susah Diikuti

Salah satu alasan Cak Gatot memutuskan keluar dari Lemon Trees, adalah karena beliau tidak mampu mengikuti gaya kesenimanan sang maestro. Mulai dari latihan yang tidak terjadwal, begadang, kebiasaan Gombloh yang suka berpetualang dari satu tempat ke tempat lain, membuat segala yang telah direncanakan jadi batal.

"Terus terang saya sulit mengikuti gaya Gombloh. Misalnya, kalau besok sudah ada janji latian, atau sesi wawancara, Gombloh tiba-tiba menghilang entah kemana. Beberapa hari kemudian dengan klewas-klewes, Gombloh datang dan bilang kalau dia habis jalan-jalan, refreshing katanya. Aneh kan? Masa refreshing harus bolak-balik? Kalau tidak refreshing, seringkali alasannya ia sedang beranjangsana ke rumah kawan-kawannya. Semua orang tahu, kalau kawan Gombloh itu ada beratus-ratus orang. Kalau mau dianjangsanai satu persatu, ya bisa setahun nggak selesai-selesai. Sementara sebagai sebuah band, kami harus sering ketemu, diskusi dan latihan. Waktu itu, kemampuan saya untuk mengikuti gaya kesenimanan Gombloh pada akhirnya mencapai batasnya. Saya tidak mampu, dan akhirnya memutuskan untuk berhenti," kenang Cak Gatot.

Waktu itu Cak Gatot mengutarakan keputusannya untuk berhenti dari Lemon Tree's. Gomblohpun dengan berat hati mengiyakan. Tapi itu bukan berarti berakhirnya hubungan pertemanan. Mereka berdua tetap saling mengunjungi dan bertemu dengan akrab di Golden Hand. Waktu itu, posisi Cak Gatot digantikan oleh Cak Pardi. Tidak lama kemudian, Gombloh dan Lemon Trees berpindah produser. Mereka bergabung di Nirwana Record. Cak Pardi sebagai gitaris baru memulai merekam lagu-lagu baru disana, sekaligus mendaur-ulang lagu-lagu lama yang sebelumnya direkam dengan Cak Gatot. 

Cak Pardi (empat dari kanan)
Rupanya, produser baru mereka di Nirwana Record memberi pesan pada Gombloh dan Cak Pardi untuk tidak menghilangkan atau merubah tematik-tematik melodi lagu-lagu sebelumnya yang telah dikreasi oleh Cak Gatot. Walhasil, Cak Pardipun banyak berdiskusi dengan Cak Gatot soal kreasi gitar pada lagu-lagu Gombloh.

"Termasuk tematik melodi pada lagu Kebyar-Kebyar. Itu kreasi saya yang dikembangkan oleh Cak Pardi menjadi lebih rapi dan lebih bernuansa. Cak Pardi hingga kini sering kontak-kontakan dengan saya. Cak Pardi itu gitaris hebat yang permainannya berkarakter, sehingga dapat lebih menghidupkan atau memberi 'nyawa' pada lagu-lagu Gombloh," tutur Cak Gatot.

Di sela perbincangan, saya menyempatkan diri untuk menelepon Cak Pardi.
Panggilan saya dijawab olehnya dan beliau tampak senang ketika mengetahui kami sedang bersama Cak Gatot.

"Memang Cak Gatot itu gitaris Gombloh sebelum saya. Wah, lama juga saya tidak bertemu dengan beliau. Tolong sampaikan salam saya buat Cak Gatot. Dia itu gitaris yang juga menginspirasi permainan gitar saya. Ah, kapan-kapan nanti jika ada waktu saya ingin bertandang ke rumahnya.. salam saja semoga Cak Gatot sehat selalu," pungkas Cak Pardi via telepon.

Akhir Perjumpaan dengan Kakek Guru sekaligus Kakak Kelas

"Saya dulu itu setelah lulus SMP, saya melanjutkan sekolah di SMA Putra Wijaya, daerah Kodam, Jl.Brawijaya. Dari situ saya, selain musik juga tertarik menggeluti ilmu elektro, dan..."

"SMA Putra Wijaya? Kodam? Persit itu Cak?," potong Tatok yang tiba-tiba dihinggapi rasa penasaran ketika Cak Gatot bercerita tentang pengalaman semasa sekolah dulu.

"Iya, saya lulus tahun 1969," tambahnya.

Tatok terlihat kaget. Sontak, ia mengatakan, "Lho Cak, saya juga lulusan situ. Dulu memang namanya SMA Putra Wijaya, sekarang diubah jadi SMA Kartika. Saya lulus tahun 1990..wah, salaman dulu, Cak! Kita sealmamater!," ujar Tatok sembari mengulurkan tangannya.

"Wah, saya ternyata kakak kelas sampean terpaut 21 tahun," ujar Cak Gatot sambil tersenyum dan menyambut uluran tangan Tatok.

Pertemuan malam itu sungguh luar biasa bagi kami. Terlebih Tatok, karena selain dapat bertemu dengan gitaris Gombloh yang punya banyak cerita, yang juga guru dari guru gitarnya (Pak Pri), yang ternyata juga sealmamater dengan Tatok. Terlihat dari raut wajahnya, Tatok begitu berbunga-bunga. Jarang sekali ia menemui kawan sealmamaternya yang jadi musisi seperti Cak Gatot. "Keren!!," katanya berulang-ulang. 

Perlahan bulan sabit diatas langit semakin meruncing. Pembicaraan kami telah mengasahnya hingga tampak begitu tajam. Malam dan hawa dingin Semeru benar-benar larut dalam sepanjang perbincangan. Kamipun tersadar. Cak Gatot yang baru pulih dari sakitnya juga butuh istirahat. Terlebih, hari itu pastilah hari yang sangat melelahkan bagi Cak Gatot, sebab sedari pagi ia sibuk dengan pesta pernikahan putrinya. Kamipun meminta maaf karena telah mengajaknya ngobrol sampai larut malam sembari berpamitan.

"Wah, saya ini justru senang kalau ada yang ngajak ngobrol soal musik. Sampai pagipun saya ladeni. Karena hiburan saya sekarang ya sebatas mendengarkan musik dan ngobrol bersama para kawan tentang musik. Apalagi coba? Gitar saya sudah terjual semua karena biaya pengobatan saya sekaligus mempersiapkan acara pernikahan putri saya ini. Praktis, setelah kena stroke, saya berhenti bermain gitar. Makanya saya senang kalau ada yang ngajak ngobrol soal musik," ujar gitaris yang juga guru dari ex gitaris Boomerang, John Paul Ivan tersebut.

Sungguh luar biasa sosok Cak Gatot. Kamipun bersalaman, kemudian kami berdua mulai melangkah menuju parkiran. Cak Gatot mengiringi kami sampai halaman rumahnya. Dan belum 100 meter kami melangkah, Tatok tiba-tiba berbalik. Ia lari-lari kecil kearah Cak Gatot.

"Kita salaman lagi ya Cak..kan kita sealmamater, hehehe," ujar Tatok sembari mengulurkan tangannya. Cak Gatot menyambutnya sembari tertawa. Terhitung semenjak datang hingga pulang, sudah 4 kali Tatok bersalaman dengan Cak Gatot. 

Setelah puas bersalaman, kamipun berjalan kembali ke arah parkiran motor. Dari jauh Cak Gatot masih berdiri dan melambai-lambaikan tangannya. Senyumnya yang lebar mengantar perjalanan kami dari Malang ke Surabaya. Perjalanan luar kota pada malam hari kami rasa cukup menyenangkan. Jalanan sepi dan kami menyempatkan singgah untuk minum kopi di sebuah warung di kota Pandaan. Wajah Tatok masih berbinar-binar. "Gak rugi rek, ketemu kakek guru master gitar. Konco sakalmamater pisan (nggak rugi. Ketemu kakek guru master gitar sekaligus teman sealmamater)," katanya setelah menghabiskan secangkir kopi hitam.

15 menit kemudian kami meneruskan perjalanan pulang ke rumah kami masing-masing. Surabaya sudah setengah terlelap diambang pagi. Dentang jam berbunyi. Pukul tiga. Sampai di rumah rasa lelah sungguh tak ada. Hanya rasa puas, kagum dan tidak sabar. Sayapun mulai mengetik tulisan tentang beliau. Mungkin, jika saya tidak ketiduran, beberapa jam lagi tulisan itu bisa selesai. Namun jika saya sampai ketiduran, saya akan kembali lagi besok. Saya sungguh tidak sabar, dan sudah saya angan-angankan di akhir tulisan saya nanti, akan saya tutup dengan 9 kata:

Semoga sehat selalu, Cak Gatot. Semangatmu tidak sendirian, kawan.

by: GDN.

Sunday, December 13, 2015

REMY WICAKSONO: PUTRA GOMBLOH DAN KELUARGA KECILNYA



Remy Anakku Sayang
(Penyanyi: Tyas Drastitiana. cipt: Gombloh)

Di timur kuning cakrawala
Menyapa ramah padamu
Gelak tawamu menggugah sukmaku
Engkau matahari, engkau permata hati ini

Kumbang dan bunga berceloteh
Mengucap salam untukmu
Sinar matamu cahaya kalbuku
Engkau matahari, engkau permata hati ini.

Cepat besar kau anakku
Dengan cinta di hatiku, Doa ibu besertamu
Genggamlah di mimpimu

Nyalakan bara kasih, ayah ibumu


Gombloh dan Remy Kecil
Anak yang Mengetuk dan Memanggil Ayahnya
Siang itu cuaca mendung. Awan kelabu mensiratkan raut duka pada wajah Surabaya. Di sudut Surabaya, di daerah Sutorejo Timur, tampak kerumunan orang sedang larut dalam ujung kisah perjalanan panjang tokoh yang begitu memberikan kesan mendalam. Dialah Soedjarwoto Soemarsono. Publik tanah air mengenalnya dengan julukan Gombloh. Maestro musik tanah air, pencipta lagu-lagu nasional, pelestari syair-syair sastra Jawa, dengan segala kesederhanaan dan kebersahajaannya itu telah pergi menghadap Sang Pencipta di Surgaloka. Lautan manusia berdiam di rumah duka sebelum bersama-sama mereka mengantar jenazahnya untuk dimakamkan di Makam Tembok, Surabaya.

Di tengah kerumunan manusia, seorang anak kecil terlihat berlari-lari menghampiri keranda jenazah. Ia tanpa sadar telah menjadi pusat perhatian diantara lautan manusia yang hadir. Begitu sampai di depan keranda jenazah, dengan tangan mungilnya ia mengetuk keranda tersebut.

"Bapak, ayo bangun pak, ada orang banyak sekali di rumah, pak. Ayo bangun, Remy pengen main sama Bapak"

Begitu celoteh lugu anak kecil itu. Di belakang, ibunya menghampiri dan kemudian memeluknya sembari menangis. "Nak, Bapak mendengarmu. Bapak sekarang sudah tidur panjang; yang pasti, Bapak sudah sangat senang melihatmu tumbuh sebagai anak manis," bujuk Ibunya.  

Itulah sepotong kisah di separuh hari antara seorang ayah yang telah pergi, seorang Ibu yang tak pernah henti menyayangi, dan seorang anak yang usianya  masih empat tahun, dan belum sepenuhnya mengerti tentang kematian. Saat itu ia tidak pernah menyangka bahwa momen itu adalah momen dimana ia terakhir kali bertemu dengan ayahnya. Momen itu begitu  membekas dalam ingatannya hingga kini.

Anak kecil itu adalah Remy Wicaksono, putra tunggal Gombloh. Kini ia telah tumbuh dewasa bersama kenangan-kenangan silam tentang ia dan ayahnya, sekaligus dibesarkan dengan kasih ibunya, juga dengan untai nada karya ayahnya. Saat ini (2015) usia Remy telah mencapai 31 tahun. Ia telah menikah, hidup bahagia dengan istri yang setia, dan telah memiliki dua anak. Sampai kini Remy dan keluarga menempati rumah sederhana peninggalan Gombloh, ayahnya, di Jalan Sutorejo Timur, Surabaya. Ia juga tinggal bersama ibunya, Wiwik, istri almarhum Gombloh.

"Waktu itu saya masih empat tahun ketika Bapak meninggal. Kenangan masa kecil yang masih membekas, hanyalah kenangan tentang kesederhanaan Bapak. Kenangan tentang rasa sayangnya Bapak kepada saya. Ketika kecil saya sering diajak jalan-jalan ke banyak tempat. Saya minta mainan model apapun pasti dibelikan,"  kenangnya.

Sebagai anak musisi besar, sebenarnya Remy memiliki bakat bermusik pula. Semasa remaja ia kerap mengikuti even-even musik. Namun ia kurang berminat untuk menceburkan diri secara total dalam dunia musik dikarenakan nalurinya untuk berbisnis terlihat lebih kuat. "Mungkin kalau Bapak masih hidup, Bapak akan marah bila tahu saya bukan musisi," ujarnya sambil tertawa.

Sosok Gombloh bagi Remy tidak sekedar menjadi ayah semata, melainkan juga sebagai kawan, sahabat, guru bahkan inspirasi terbesar Remy dalam menjalani hidupnya. Menurut pengakuan Remy, setiap malam ia selalu rindu dan kerinduan itu ia wujudkan dengan memutar lagu-lagu karya Bapaknya; dan setiap kali nada-nada itu muncul, terbawa pula ingatan masa silam, antara Remy kecil dan peluk sahaja seorang ayah.

Remy, Erie dan Firdaus
Remy dan Erie
Sekalipun menyandang status sebagai anak musisi besar, tak sekalipun Remy memberitahukannya kepada siapapun, walaupun telah banyak orang tahu tentang hal itu. Menurutnya, sosok Gombloh tak tergantikan oleh siapapun, bahkan oleh anaknya sendiri. Maka, status sebagai anak Gombloh menjadi anugerah sekaligus beban bilamana ada satu-dua orang yang mencoba membandingkan antara Remy dengan sosok ayahnya.

Apalagi orang lain, Maria Erie, perempuan kelahiran Bengkulu yang tinggal di Sidoarjo, yang kini menjadi istri Remy berkat perkenalannya di sebuah warnet di Surabaya, baru mengetahui bahwa Remy adalah anak Gombloh kurang lebih dua minggu sebelum hari pernikahannya.

Alkisah ketika berpacaran dan sedang berduaan di suatu tempat, Erie iseng melihat foto-foto yang ada dalam handphone Remy. Saat itu ia penasaran dengan foto seorang laki-laki berperawakan kurus, berkacamata hitam, berambut gondrong dan membawa gitar. Foto sosok tersebut jumlahnya sangat banyak. "Ini foto siapa sih kok banyak banget?," tanya Erie penasaran. "Oh, itu foto bapakku," jawab Remy. Eriepun terus membuka foto-foto itu dan tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah gambar dimana sosok yang katanya Bapaknya Remy itu terlihat berpose dengan merangkul dua orang wanita cantik di kanan-kirinya. "Lho, apa Bapakmu istrinya dua? Lalu ibumu yang sebelah mana?,"
"Hush, ngawur. Bapakku itu musisi. Dalam foto itu almarhum sedang berpose bersama dua orang vokalisnya"
"Ooo..." 

album Gombloh Terima Kasih Indonesia
Foto yang menarik perhatian Erie waktu itu adalah foto Gombloh yang sedang merangkul kedua sahabat dekat sekaligus backing vokalnya dalam band Lemon Trees Anno, yakni Soelih dan Ratih. Foto tersebut menjadi cover album Gombloh yang berjudul 'Terima Kasih Indonesia'. Namun saat itu Erie tidak begitu meresponnya secara serius. Barulah Erie terkejut ketika ia dihadapkan dengan ayahnya sendiri. Terkejut oleh kenyataan bahwa dia adalah calon menantu musisi besar.

Kurang lebih dua minggu sebelum pernikahannya, ayah Maria Erie mengajak putrinya untuk ngobrol. Merekapun duduk berhadapan antara ayah dan anak. "Ria (panggilan akrab sang ayah kepada Erie, anaknya)," ayahnya memulai percakapan.
"Sudah siapkah kamu untuk menikah, nduk?"

"Tentu saja siap, Ayah. Mengapa? Apa ayah meragukanku? Atau meragukan Remy calon suamiku,?"

"Oh tentu tidak. Tak sekalipun ayah ragu. Cuma, ayah penasaran, tahukah kamu siapa sebenarnya orangtua Remy?"

"Almarhum bapaknya Remy namanya Soedjarwoto Soemarsono, dia dulu katanya kerjanya jadi musisi. Kalau ibunya, namanya Wiwik Sugiharti, Ibu rumah tangga"

"Itu saja? Tak ada yang lain? Misalnya Remy pernah cerita kalau Bapaknya ngetop dan lain sebagainya?"

"Tidak,yah"

Sejenak, ayahnya tersenyum menahan tawa menghadapi keluguan putrinya, lalu ia melanjutkan pembicaraan:
"Sebentar, Ria, mungkin kamu masih ingat, dulu ketika kamu masih kecil, ayah sering menyanyikan lagu apa?"

"Tentu ingat, yah, ayah dulu sering menyanyikan lagu yang liriknya seperti ini: Ria-Rio, aku dengar, lagu kesayanganmu.....," ujar Erie berbinar-binar.

"Nah, kamu masih ingat,kan?"

"Iya, ingat, yah. Terus apa hubungannya lagu itu dengan aku dan Remy?"

"Itu lagu, aslinya berjudul 'Kugadaikan Cintaku'. Lirik awalnya begini: "Di Radio, aku dengar, lagu kesayanganmu...nah, lagu itu sengaja kuubah syairnya untuk menghiburmu. Nah, Bapaknya Remy itu musisi besar yang menciptakan lagu itu,"

Erie terhenyak. "Masa, sih yah? Pak Soedjarwoto Soemarsono, Bapaknya Remy yang kurus dan gondrong itu?" 

"Soedjarwoto Soemarsono itu nama bekennya Gombloh, nduk. Dia musisi besar Indonesia. Selain lagu itu, Pak Gombloh almarhum itu juga menciptakan lagu-lagu nasional yang sering dibawakan pada peringatan hari kemerdekaan maupun hari besar lainnya, di sekolah-sekolah, di instansi-instansi, bahkan di istana negara. Pasti kamu tahu lagu megah dan sensasional dan membakar semangat perjuangan berjudul 'Kebyar-Kebyar'? Nah, lagu itu ciptaan Bapaknya Remy juga, nduk. Kamu itu dua minggu lagi mau jadi menantu musisi legendaris Indonesia"

Maria Eriepun terbengong-bengong. Lagu 'Ria-Rio aku dengar lagu kesayanganmu' dan 'Kebyar-Kebyar' yang selama ini berputar-putar di kepalanya, kerap didengarnya ketika masih kecil hingga dewasa, ternyata adalah ciptaan ayah dari calon suaminya.

"Wah, walaupun Gombloh sudah almarhum, ayah nggak habis pikir lho kalau ayah ini bakal besanan sama tokoh seniman nasional," tambah ayahnya. Erie masih terdiam keheranan.

"Ah, nanti akan aku tanyakan langsung ke Remy," Erie berujar dalam hati.

Dua minggu terlewati dan hari pernikahanpun tiba. Seusai ijab kabul yang dilakukan sebanyak dua kali (karena Remy salah menyebut nama ayah Erie, mertuanya), Erie menghampiri Remy. Iapun bertanya, "Kamu itu beneran anaknya Gombloh?"
"Iya bener. Emang kenapa?"
"Kok kamu nggak pernah cerita?"
"Lah situ sih nggak nanya," jawab Remy. Eriepun dengan bercanda mencubit lengan suaminya itu. 19 September 2010. Hari pernikahan anak dan menantu Gombloh. Mereka siap menempuh hidup baru sebagai keluarga kecil.

Keluarga Kecil yang Menghidupkan Kembali Sang Maestro
Remy dan Erie, sebagai anak dan menantu Gombloh berperan besar dalam terbentuknya komunitas Memories of Gombloh. Mulanya komunitas itu menjalin komunikasi antar anggota melalui jejaring sosial facebook. Tidak lepas dari usaha Erie, dibantu oleh Paman Doddy Floyd, pemerhati Gombloh yang kini tinggal di Jakarta, juga Remy, mereka bertiga bergerilya mencari kawan-kawan Gombloh semasa hidup, meliputi pemerhati Gombloh dan fans-fans Gombloh yang bertebaran di facebook. Mereka mengumpulkan semuanya, dan akhirnya atas prakarsa Erie, mereka membentuk fan page bernama 'Memories of Gombloh'. Fan Page itu menampung semua Gombloh Lovers setanah air. Hingga saat ini (2015) jumlah anggota halaman tersebut mencapai kurang lebih 3000 orang.

Fan Page Facebook Memories of Gombloh yang mereka dirikan telah sukses sebagai media kritik terhadap siapa saja yang mencoba memberi kabar miring atau kabar salah tentang Gombloh, seperti kasus Wisnu Padma yang mengklaim sebagai pencipta lagu Kebyar-Kebyar, ada lagi kasus dipakainya lagu Gombloh dengan mengubah liriknya secara semena-mena oleh iklan minuman, lalu yang terakhir, Memories of Gombloh berhasil memaksa Warner Music untuk mencantumkan nama Gombloh sebagai pencipta lagu Kebyar-Kebyar setelah lagu tersebut dibawakan dalam video klip band internasional asal Inggris, Arkarna, di situs YouTube.

Memories of Gombloh, akhirnya mendapatkan momentum untuk melakukan kopdar bersama para anggotanya. Momen itu muncul saat dihelatnya konser akbar 'Tribute to Gombloh' yang diikuti musisi-musisi baik lokal maupun nasional, termasuk Sekaring Jagad, band asal Surabaya yang mentahbiskan diri sebagai band pengusung lagu-lagu Gombloh disetiap penampilannya. Acara itu terselenggara pada akhir tahun 2014 di Parkir Timur Plaza Delta, Surabaya. Disana, Gombloh mendapat penghargaan dari panitia dan Remy mewakili bapaknya untuk serah-terima piagam.

Firdaus dan Alisha, Cucu Gombloh
Begitulah kehidupan keluarga putra Gombloh yang penuh dengan keharmonisan dan juga kreativitas. Mereka berhasil membangkitkan kembali kenangan tentang Gombloh pada masyarakat luas dengan Fan Page yang dibuatnya itu. Semua tidak lepas dari peran Remy dan Erie. Almarhum Gombloh dan istrinya, Wiwik Sugiharti, yang akhirnya telah resmi menjadi kakek dan nenek setelah pada tanggal 19 September 2010 keluarga kecil Remy dan Erie dikaruniai seorang anak lelaki bernama Firdaus Langit Wijayanto. Langit panggilannya. Menyusul lima tahun kemudian, pada tanggal 06 Agustus 2015, mereka dikaruniai anak perempuan yang diberi nama Alisha Kinandari Dwi Nastiti. Lengkap sudah kebahagiaan keluarga kecil Remy. Dua anak, laki-laki dan perempuan, yang sama-sama gemar mendengar suara rekaman lagu kakeknya. Langit telah hafal banyak lagu Gombloh dan sangat menggemari kakeknya, sedangkan Alisha, takkan bisa tidur bila ayah dan ibunya belum memutar lagu-lagu Gombloh.

Remy dan keluarga, semoga selalu berbahagia, dan Setidaknya sosok Gombloh akan tetap diingat dan abadi. Hai kaum belia, seperti apa yang telah dilakukan Remy dan Erie, maka, ingatlah kita semua tentang sosok itu, sosok yang membangkitkan gelora setiap relung jiwa masyarakat Indonesia. Dengarkan lagunya, dalami, resapi dan buncahkan semangat bersama. Nyanyikan!!!!!!!!!!


NB: 
- foto2 diambil dari facebook pribadi Remy dan Erie dan koleksi foto pada fan page facebook Memories of Gombloh
- Tulisan didasarkan pada hasil wawancara dengan Remy dan Erie.

Thursday, February 5, 2015

GOMBLOH DI BANGUNREJO, SURABAYA, 1979


Surabaya Punya Cerita

Ini adalah liputan eksklusif saya dengan Gombloh. Foto ini (lihat foto) sebenarnya pernah dimuat di majalah “MUTTAQIN”, sebelum berganti nama menjadi “SEMESTA”; yang memotret adalah cak Fuad Ariyanto, yang kemudian menjadi editor di “Jawa Pos”. Penampakan di ujung foto itu adalah saya yang berdiri di samping mobil sport antik warna putih milik Gombloh. Foto diambil kira-kira jam 8 pagi (dia baru bangun karena janji dengan saya untuk wawancara lanjutan).

Sehari sebelumnya saya mewawancarainya di studio Nirwana Record, sebelah Siola, Jl. Tunjungan. Dari studio, kami berboncengan sepeda motor ke Bangunrejo. Malam hari sebelumnya saya wawancara dia di rumah ortunya di kawasan belakang RS Mata Undaan. Dalam wawancara pagi itu, Gombloh bilang kalau malam itu dia baru saja menciptakan sebuah lagu yang bisa membangkitkan patriotisme dan nasionalisme bangsa, khususnya kaum muda. Gombloh menolak ketika saya minta untuk menuturkan liriknya. Tetapi setelah saya bujuk dan rayu sedemikian rupa, akhirnya keluarlah dr mulutnya untaian kata yang kemudian jadi 'lagu kebangsaan' kedua itu: "Kebyar-Kebyar".

Alasan Gombloh menolak menuturkan liriknya waktu itu karena dia tidak mau lagu barunya itu 'bocor'. Saat
menuturkan liriknya, Gombloh berujar sambil bersenandung dan saya mencatatnya. Saya sendiri waktu itu
merasa lagu ini biasa-biasa saja, tapi ternyata setelah disempurnakan melalui dapur rekaman, lagu ini disukai publik dan meledak di pasaran. Tujuan Gombloh tercapai.

Saya ketemu lagi dengan Gombloh di tahun 1980 di Jakarta saat dia konser dengan Leo Kristi di Senayan. Saya pun sempat mengunjunginya di Hotel Sabang, dia malah memberi saya uang saku 150.000 karena dia tahu saya juga seorang mahasiswa UI dan beliau berpesan kepada saya untuk terus berjuang mengejar cita-cita.

Ah, itulah secuil kenangan saya dengan musisi legendaris, Gombloh. Kini saya jadi tersenyum sendiri bila
mengingat cerita ini dan merasa bangga karena bisa menjadi orang pertama yang mendapatkan kesempatan mendengarkan lagu 'Kebyar-Kebyar' langsung dari sang musisi.
Allahummaghfirlahu warhamhu..

Foto dan tulisan ini dikutip dari sumber: Grup Facebook Memories of Gombloh Link: https://www.facebook.com/125223787516416/photos/np.101984663.1468490185/843131939058927/?type=1&ref=notif&notif_t=notify_me (Cep Ocim)

Thursday, December 5, 2013

Gombloh di Mata Sahabatnya: Pelukis Poerono Sambowo




Gedung Balai Pemuda merupakan saksi bisu perjalanan seniman-seniman Surabaya yang banyak diantaranya berhasil menjadi kebanggaan nasional, bahkan dunia. Sebut saja Leo Kristi, Frangky Sahilatua, sastrawan S.Jai, dan masih banyak lagi. Gedung yang dibangun sejak masa kolonial dan masih terjaga keaslian bentuk arsitektural bangunannya itupun juga merupakan perekam jejak keseharian Gombloh, seorang maestro musik dari Surabaya. Di Balai Pemudalah Gombloh melakukan aktivitasnya, meliputi proses penciptaan karya-karyanya, diskusi sesama seniman, dan membuat even-even kesenian. 
 
Sebagai gedung kesenian, maka dapat dibilang bahwa kompleks gedung itu merupakan tempat berkumpulnya seniman, baik seniman teater,musik,seni lukis,seni tari dan seniman-seniman dari berbagai bidang. Para seniman membuat base camp yang dinamakan Komunitas Bengkel Muda, yang terletak di belakang musholla Balai Pemuda. Disana terdapat gedung dua tingkat, tempat dimana para seniman melakukan aktivitas diskusi, sekedar minum kopi, atau menjadikannya tempat menginap. Itupula yang dilakukan Gombloh di era ‘70-‘80an, dan konon, menurut Naniel Yakin, saksi hidup perjalanan kesenimanan Gombloh, mengatakan bahwa lagu ‘Kebyar-Kebyar’ yang fenomenal itu diciptakan oleh Gombloh saat sedang kerokan. “Ya, Gombloh menciptakan lagu ‘Kebyar-Kebyar’ di halaman depan base camp komunitas Bengkel Muda. Saat itu ia kena masuk angin, jadi ia menciptakan lagu sambil kerokan,” kenang Naniel sambil tertawa.

Kita mungkin banyak mendengar penuturan tentang kisah masa lalu Gombloh dari kawan musisinya dahulu, atau dari keluarga dekatnya. Nah, kita mungkin jarang mendengar penuturan kisah Gombloh dari seorang seniman lukis, bukan? 

Sebagai seniman yang menghabiskan kesehariannya di Balai Pemuda, tentu Gombloh banyak berkawan dengan para seniman dari berbagai bidang keahlian. Salah satu kawan dekatnya adalah seniman lukis terkenal Surabaya bernama Poerono Sambowo, atau akrab dipanggil Pak Pung. “Gombloh dulu sering menginap di lantai dua. Saat sudah menjadi artispun masih seperti biasanya, ia tetap kembali ke Bengkel Muda dan menghabiskan kesehariannya dengan diskusi, menulis syair dan lagu. Hanya beberapa waktu saja ia menyempatkan diri untuk pulang, atau ia keluar untuk show dan keluar dengan alasan ‘mencari inspirasi’ untuk karya-karyanya,” ujar Pak Pung.

Pelukis Poerono Sambowo
Ditanya mengenai Gombloh, Pak Pung sangat antusias dalam bercerita. Maklum, ia juga merasa kagum dengan karya Gombloh, maupun pribadinya yang sederhana. Diceritakannya, saat sudah menjadi artis dan memiliki banyak uang, Gombloh sering mempergunakan uang hasil shownya itu untuk mentraktir teman-temannya. “Dulu di sebelah Balai Pemuda ada sebuah gedung Bioskop, namanya ‘Mitra’. Nah, di pojok gedung bioskop Mitra terdapat warung ‘Mbak Jum’, sebuah warung kecil yang menjual berbagai makanan dan minuman. Disanalah Gombloh sering mentraktir teman-temannya. Bahkan, Gombloh kadang tidak sadar, bahwa uangnya sudah habis karena dipakai mentraktir; dan esoknya ketika butuh kopi atau rokok, iapun ngutang,” kenang Pak Pung sambil terpingkal-pingkal.

Rupanya, selain sebagai musisi, Gombloh juga merupakan penikmat seni lukis. Menurut penuturan Poerono Sambowo, Gombloh seringkali bolak-balik berkunjung ke galeri seni rupa AKSERA (Akademi Seni Rupa Surabaya), di daerah Dukuh Kupang, Surabaya. “Gombloh juga tidak pernah luput untuk menyaksikan berbagai even pameran lukisan di Surabaya. Tapi ia tak pernah sekalipun mengomentari sebuah lukisan. Ia cenderung menikmati dan mengaguminya.saja,” tutur pelukis sepuh yang juga alumni AKSERA itu.

Poerono Sambowo, pelukis yang lahir pada tanggal 27 Februari 1941 itu mengisahkan bahwa ia pernah memiliki kenangan yang tak terlupakan soal Gombloh. Dikisahkannya, suatu kali seniman-seniman yang tergabung dalam Komunitas Bengkel Muda membuat even bertema ‘Gebyar Seni Pemuda’. Acara itu diselenggarakan pada sekitar awal tahun 80’an di Balai Pemuda dan kebetulan Poerono Sambowo ditugaskan untuk melukis poster acara tersebut. “Saat itu saya melukis poster yang berukuran cukup besar. Nah, ketika saya hendak menggambar wajah Gombloh sebagai bintang tamu, Gombloh berpesan kepada saya, ‘Pung, koen nggambar aku elek gak opo-opo, pokokke ojok Tuwek (Pung, kamu boleh menggambar aku  jelek, tapi  pokoknya wajahku jangan kelihatan tua)’. Komentar itulah yang saat itu membuat saya dan teman-teman yang mendengarnya tertawa terbahak-bahak. Itulah lelucon yang paling saya ingat dari Gombloh,” ujar pria yang kini berusia 73 tahun itu.

Sebagai sahabat dekat, sekaligus teman diskusi yang akrab, Poerono pun cukup kaget ketika mendengar berita meninggalnya sang maestro. “Saya ketika mendengar berita itu langsung lari menuju rumah duka. Disana rupanya sudah sangat penuh dengan para pelayat. Esoknya, ketika hari pemakaman, saya turut serta mengiringinya, bahkan bukan hanya saya, bukan hanya kawan-kawan maupun kerabat-kerabat Gombloh, tapi juga seluruh masyarakat Jawa Timur. Pada hari pemakaman, terlihat kerumunan masyarakat yang menghadiri pemakamannya menyemut, hingga memacetkan jalan-jalan di Surabaya. Sungguh, suasana pemakamannya begitu ramai dan itu membuktikan bahwa masyarakat Indonesia, khususnya Surabaya dan Jawa Timur, sangat merasa kehilangan. Gombloh adalah seniman besar yang pernah dimiliki dan ada di hati kita semua. Ketika itu semuanya larut dalam suasana sedih, bahkan Mbak Jum, pemilik warung yang menjadi langganan Gombloh menangis histeris saat mendengar kabar meninggalnya Gombloh,” kenangnya. 

Sosok maestro yang bersahaja, yang tetap sederhana dalam kesehariannya itu meninggalkan banyak kenangan indah. Kawan sesama seniman, kerabat dan masyarakat saat itu diliputi kesedihan mendalam. Duka dan tangisan mengiringi kepergiannya. Namun sekalipun ia telah pergi, ia meninggalkan satu hal yang masih dapat kita temui: buah-buah pemikiran yang pernah dituangkannya dalam bentuk karya musik. Nada, irama, dan syair-syair sang maestro akan menuntun kita pada sebuah kenangan manis tak terlupakan: Indonesia pernah punya musisi besar, namanya Soedjarwoto Soemarsono. Ia akrab dipanggil Gombloh.


Pose bareng Mahasiswa UK Petra, Pak Pung, Cak Naniel di halaman Bengkel Muda Surabaya.





 *29 November. Hasil wawancara bareng tim design grafis UK Petra, Surabaya. Foto-foto diambil dari Fb Memories of Gombloh dan foto pribadi Poerono Sambowo.